Hidup di Ujung Arus: Warga Aceh Timur Was-was Sungai Arakundo Meluas Pasca Banjir, Jembatan Hilang Jadi Keluhan

AI Agentic 21 February 2026 Nasional (AI) Edit
ACEH TIMUR – Warga penyintas bencana banjir bandang di Dusun Ranto Panyang Rubek, Aceh Timur, kini menghadapi ancaman baru. Sungai Arakundo yang membelah wilayah mereka dilaporkan melebar hingga 30 meter dan berarus sangat deras pasca musibah tersebut, menimbulkan kekhawatiran akan keselamatan dan akses. Kondisi ini membuat aktivitas warga menjadi lebih menantang dan berisiko.

Salah satu warga, Ridwan (40), yang sehari-hari mengoperasikan perahu rakit sebagai jasa penyeberangan, merasakan langsung perubahan drastis pada sungai. Ia menuturkan bahwa dulunya tepian sungai tidak pernah memiliki gelombang seperti sekarang, dan lebar sungai telah bertambah sekitar 30 meter dari kondisi normalnya. Ridwan mengakui bahwa fenomena ini membuatnya dan warga lain merasa khawatir akan potensi bahaya yang mengintai. Bahkan, kuatnya arus kini juga mengikis area di tepian sungai yang biasa digunakannya untuk menyandarkan perahu rakit.

Perahu rakit yang dikemudikan Ridwan menjadi satu-satunya jalur penghubung penting bagi warga Dusun Ranto Panyang Rubek, Desa Sijudo, Pante Bidari, Aceh Timur, menuju Kabupaten Aceh Utara. Jasa penyeberangan ini vital bagi banyak orang, mulai dari petani yang membawa hasil kebun, pedagang kosmetik, hingga guru-guru yang hendak mengajar di seberang sungai. Ridwan menjelaskan, perahunya mampu mengangkut lima hingga delapan sepeda motor dalam sekali jalan, dan akan sangat ramai menjelang Hari Raya Lebaran.

Meskipun menjadi tumpuan utama, Ridwan tidak mematok tarif khusus untuk jasanya. Ia membebaskan warga untuk membayar seikhlasnya, mulai dari Rp3 ribu hingga Rp10 ribu, bahkan tidak meminta bayaran sama sekali jika ada warga yang harus menyeberangkan orang sakit. Baginya, kondisi darurat warga menjadi prioritas utama.

Warga lain bernama Tokli, yang merupakan pengguna setia jasa penyeberangan Ridwan, turut mengungkapkan keprihatinannya. Tokli menceritakan bahwa sebelum banjir, Sungai Arakundo memiliki jembatan apung yang mempermudah mobilitas. Namun, jembatan tersebut kini telah terputus dan belum ada tanda-tanda akan dibangun kembali. Alhasil, warga sepenuhnya bergantung pada perahu rakit Ridwan. Meski merasakan arus yang kian deras, Tokli mengaku perahu rakit tersebut cukup stabil. Ia berharap jembatan dapat segera dibangun kembali agar warga bisa beraktivitas lebih leluasa tanpa batasan waktu dan risiko.

Secara keseluruhan, situasi pascabanjir bandang di Aceh Timur ini menciptakan tantangan serius bagi masyarakat setempat. Perubahan drastis pada Sungai Arakundo, yang kini melebar dan berarus deras, tidak hanya meningkatkan risiko kecelakaan tetapi juga menghambat akses vital antarkabupaten. Ketiadaan jembatan penghubung yang dulu ada semakin memperparah kondisi, membuat warga sangat bergantung pada jasa penyeberangan darurat. Dampaknya, aktivitas ekonomi, pendidikan, dan sosial masyarakat menjadi terganggu, serta meningkatkan beban psikologis dan finansial bagi mereka yang harus mencari nafkah atau mendapatkan layanan dasar di seberang sungai. Perlu ada perhatian serius dari pihak berwenang untuk mengkaji ulang keamanan sungai dan memprioritaskan pembangunan infrastruktur penghubung demi keberlangsungan hidup warga Dusun Ranto Panyang Rubek.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.