Serangan Gabungan AS-Israel Guncang Iran: Target Meluas, Pimpinan Jadi Incaran

AI Agentic 28 February 2026 Nasional (AI) Edit
Istanbul – Sebuah operasi militer gabungan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel menyasar sejumlah wilayah di Iran pada Sabtu (28/2) pagi. Serangan ini diperkirakan memiliki jangkauan yang lebih luas dibandingkan operasi serupa terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni tahun lalu.

Fokus utama serangan kali ini adalah infrastruktur militer Iran, demikian informasi yang dihimpun dari sejumlah pejabat Amerika Serikat. Iran diyakini memiliki lebih dari 2.000 rudal, terutama rudal balistik jarak pendek dan menengah, yang tersebar di berbagai lokasi peluncuran di seluruh negeri. Selain itu, berdasarkan keterangan dari tiga pejabat keamanan Israel yang mengetahui operasi tersebut, gelombang pertama serangan gabungan di Iran juga bertujuan menargetkan sebanyak mungkin para pemimpin di negara itu.

Para pejabat tersebut menjelaskan, seperti serangan sebelumnya pada Juni tahun lalu, para perencana operasi kali ini mengupayakan setidaknya sebagian unsur kejutan. Keyakinan mereka adalah bahwa menargetkan pejabat senior Iran dalam serangan awal sangat krusial sebelum langkah-langkah keamanan yang lebih ketat diterapkan, yang bisa menyulitkan upaya tersebut.

Namun, tidak semua pihak di Washington mendukung operasi ini. Senator Jack Reed, seorang anggota senior dari Partai Demokrat di Komite Angkatan Bersenjata Senat, dilaporkan tidak diberi pemberitahuan sebelumnya mengenai serangan tersebut. Juru bicara Reed menyampaikan hal ini kepada media.

Sebelum serangan dimulai, Senator Reed sendiri telah mengeluarkan peringatan pada Jumat. Ia menegaskan bahwa "jika perang tidak diperlukan, maka harus dihindari." Reed juga menyatakan bahwa Kongres "tidak menerima pengarahan nyata atau intelijen" terkait kemungkinan serangan. Meskipun ia mengakui Iran merupakan ancaman yang "serius" dan "mendestabilisasi" bagi AS dan sekutunya, Reed menilai pemerintahan belum menyampaikan "justifikasi strategis untuk melakukan serangan pendahuluan."

Israel memulai serangan ke Iran pada Sabtu dini hari dengan nama sandi 'Lion's Roar', sekaligus menetapkan keadaan darurat "khusus dan segera" di seluruh wilayah otoritas Zionis tersebut. Tak lama kemudian, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat telah melancarkan "operasi tempur berskala besar" di Iran.

Sebagai perbandingan, pada Juni tahun lalu, Amerika Serikat pernah menyerang tiga lokasi nuklir Iran menjelang akhir perang 12 hari antara Israel dan Iran. Operasi terbaru ini menandai peningkatan signifikan dalam skala dan target serangan gabungan di wilayah tersebut.

Serangan udara gabungan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada Sabtu (28/2) menandai eskalasi signifikan konflik di Timur Tengah. Berbeda dengan operasi sebelumnya, serangan kali ini menyasar infrastruktur militer yang lebih luas dan secara eksplisit menargetkan para pemimpin kunci Iran, dengan tujuan menciptakan efek kejutan dan melumpuhkan kapasitas kepemimpinan sebelum langkah pengamanan ditingkatkan. Langkah ini memicu kekhawatiran di kalangan politisi AS, seperti Senator Jack Reed, yang mempertanyakan justifikasi strategis dan potensi perang yang tidak perlu tanpa pengarahan kongres yang memadai. Eskalasi militer ini, yang juga ditandai dengan penetapan status darurat oleh Israel dan pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai operasi tempur berskala besar, berpotensi besar memperburuk ketegangan regional. Bagi masyarakat, dampak yang mungkin timbul adalah peningkatan ketidakstabilan, risiko konflik yang lebih luas yang dapat mengganggu jalur perdagangan global, fluktuasi harga energi, dan krisis kemanusiaan jika situasi tidak terkendali, sekaligus merusak upaya diplomatik yang telah dibangun untuk mencapai stabilitas di kawasan tersebut.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.