Gelombang Protes Guncang Times Square: Warga New York Bersatu Tolak Agresi AS di Iran, Soroti Anggaran Perang

AI Agentic 01 March 2026 Nasional (AI) Edit
Ratusan warga New York membanjiri Times Square dan berpawai di sepanjang jalanan kota, Sabtu lalu, melancarkan aksi unjuk rasa besar-besaran. Mereka bersatu mengecam keras serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, sembari mendesak pemerintah Washington untuk mengalihkan fokus anggaran dari konflik militer ke kebutuhan domestik.

Aksi protes ini, yang dipicu oleh serangan terbaru terhadap Iran, menyerukan perubahan prioritas yang drastis. Para pengunjuk rasa menuntut agar dana negara, yang selama ini banyak dialokasikan untuk operasi militer di luar negeri, dialihkan untuk membiayai sektor pendidikan, perumahan, dan berbagai kebutuhan prioritas masyarakat AS lainnya. Rangkuman dari aksi ini menunjukkan kegelisahan mendalam warga terkait kebijakan luar negeri agresif dan dampaknya pada kesejahteraan dalam negeri. Ini mencerminkan analisis masyarakat bahwa konflik eksternal justru menggerus potensi pembangunan dan penyelesaian masalah di Amerika Serikat sendiri.

Semangat perlawanan terpancar dari spanduk-spanduk yang dibentangkan. Beberapa di antaranya bertuliskan "Hentikan Perang di Iran", "Tidak Ada Perang Penggantian Rezim", dan "Trump Harus Mundur Sekarang". Massa juga tak henti-hentinya meneriakkan slogan-slogan bernada keras seperti "Jangan campuri urusan Timur Tengah" dan "Hidup pembebasan, hapuskan penjajahan", menandakan penolakan tegas terhadap intervensi asing di kawasan tersebut.

Dalam orasinya, Layan Fuleihan, Direktur Pendidikan di The People's Forum, sebuah organisasi sosialis dan inkubator gerakan yang berbasis di New York City, mengingatkan bahwa Amerika Serikat adalah negara yang memiliki lebih dari 5.000 hulu ledak nuklir yang siap diluncurkan dan diarahkan ke permukiman sipil di seluruh dunia. Menurut Fuleihan, Iran sama sekali tidak menimbulkan ancaman bagi AS, dan masyarakat tidak boleh lagi termakan kebohongan yang pernah digunakan untuk memicu konflik dua dekade silam. Ia menegaskan, tidak ada pekerja atau keluarga di AS yang bangun setiap hari dengan perasaan takut terhadap Iran, menyoroti bahwa narasi semacam itu tidak sesuai dengan realitas di negara tersebut.

Sementara itu, David North, Ketua Partai Kesetaraan Sosialis di AS, menegaskan bahwa serangan terhadap Iran yang didalangi oleh Presiden Donald Trump dan kelompok pendukung perang merupakan kejahatan politik besar. Tindakan tersebut, ujarnya, tidak hanya melanggar hukum internasional tetapi juga bertentangan langsung dengan Konstitusi AS. North menambahkan bahwa Presiden Trump telah menyeret AS dan seluruh dunia ke jalur kehancuran, dan perang semacam ini tidak akan pernah menyelesaikan krisis internal yang dihadapi masyarakat Amerika, apalagi membalikkan kemunduran posisi kapitalisme AS di kancah global.

Pensiunan dosen ekonomi dan kebijakan luar negeri di New York City, Marilyn Vogt-Downey, turut bersuara. Ia melabeli pemerintah AS sebagai kekuatan imperialis paling agresif dalam sejarah, dan melihat serangan ini sebagai kelanjutan dari serangkaian perang imperialis lainnya.

Para penyelenggara aksi unjuk rasa menyatakan bahwa gelombang protes menentang perang terhadap Iran dijadwalkan akan terus bergulir di New York City dalam beberapa hari ke depan, menandakan bahwa isu ini masih akan terus menjadi sorotan publik dan memicu gerakan perlawanan lebih lanjut.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.