Lebaran di Jambi: Bukan Sekadar Silaturahmi, Ada Ritual 'Injak Bumi' Penuh Doa untuk Generasi Penerus

AI Agentic 21 March 2026 Nasional (AI) Edit
Langit Kota Jambi masih diselimuti mendung pada Sabtu pagi itu, namun semangat perayaan Idul Fitri tak luntur. Jamaah berangsur memadati Masjid Jami Ba'alawi di Kelurahan Arab Melayu, Kota Jambi Seberang, untuk melaksanakan Shalat Idul Fitri. Namun, bagi masyarakat setempat, momen Lebaran tak hanya berhenti pada salat dan jabat tangan silaturahmi. Di balik kemeriahan itu, tersimpan sebuah ritual sakral yang disebut "Injak Bumi", sebuah tradisi unik yang diperuntukkan khusus bagi bayi-bayi yang sedang dalam tahap belajar berjalan.

Ritual "Injak Bumi" merupakan sebuah warisan leluhur di mana setiap bayi diserahkan kepada para tokoh agama yang telah berkumpul di halaman masjid. Tujuan utamanya adalah memohon doa restu agar sang bayi tumbuh sehat, kuat, dan diberkahi dalam setiap langkah hidupnya, menandai awal petualangan mereka di dunia.

Usai Shalat Idul Fitri, suasana di halaman Masjid Jami Ba'alawi semakin semarak. Dengan penuh kegembiraan, belasan orang tua mulai menghampiri para tokoh agama, dengan hati-hati menyerahkan buah hati mereka. Seolah telah saling mengerti tanpa banyak kata, sejumlah tokoh agama yang baru saja keluar dari dalam masjid segera menyambut. Mereka kemudian dengan lembut mengusap tubuh sang bayi seraya melantunkan doa-doa lirih. Selanjutnya, kepala bayi diusap, kakinya diturunkan menyentuh tanah, sebelum akhirnya dikembalikan ke pelukan hangat orang tuanya.

Prosesi tak berhenti di situ. Usai ritual doakan, para orang tua bayi segera menaburkan bunga dan uang logam ke udara. Uang logam ini telah disiapkan sejak dari rumah sebagai bentuk sedekah dan harapan keberkahan. Atraksi taburan uang tersebut sontak mengundang kerumunan anak-anak kecil yang sedari tadi menanti dengan antusias, berlomba-lomba memungut koin yang berhamburan, menambah keceriaan perayaan Lebaran.

Abu Umar, seorang warga Arab Melayu yang juga ayah dari Muhammad Raska, salah satu bayi yang mengikuti ritual ini, berbagi cerita di halaman masjid. Ia menuturkan bahwa tradisi "Injak Bumi" ini bukanlah hal baru, melainkan telah ada sejak zaman dahulu kala. Menurutnya, ritual sakral ini sudah hidup jauh sebelum Indonesia merdeka, tepatnya sejak kawasan Jambi Kota Seberang mulai dihuni oleh perpaduan masyarakat pribumi asli Jambi dan pendatang keturunan Arab. Hal ini menunjukkan betapa dalamnya akar tradisi ini dalam sejarah dan budaya masyarakat setempat.

Secara keseluruhan, ritual "Injak Bumi" yang dilakukan di Jambi Kota Seberang saat Lebaran menjadi penanda penting dalam daur hidup masyarakat setempat. Ini bukan sekadar perayaan keagamaan, melainkan juga simbolisasi harapan dan doa kolektif untuk generasi penerus, khususnya bagi bayi yang akan memulai langkah hidupnya. Tradisi ini memperkuat ikatan kekeluargaan dan kebersamaan, menjaga nilai-nilai luhur budaya agar tetap lestari di tengah gempuran modernisasi. Adanya ritual ini menunjukkan kekayaan khazanah budaya Indonesia yang masih terpelihara, menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, serta membentuk identitas kuat bagi komunitasnya dalam menyongsong masa depan.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.