Jakarta Lengang Usai Lebaran, Ribuan Penumpang Justru Padati Transjabodetabek dari Bogor: Ada Apa?
Suasana lengang menyelimuti Ibu Kota Jakarta pada H+2 Lebaran tahun ini, menawarkan pengalaman unik bagi mereka yang ingin menikmati wajah kota tanpa hiruk pikuk seperti biasanya. Terlebih, cuaca cerah berawan yang diprakirakan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) semakin menambah kenyamanan perjalanan. Di tengah ketenangan Jakarta, fenomena berbeda justru terlihat di jalur transportasi publik dari wilayah penyangga.
Moda transportasi bus Transjabodetabek rute P11 dari Bogor menjadi pilihan menarik bagi ribuan warga yang ingin menjangkau Ibu Kota. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta patut berbangga, sebab rute ini menunjukkan popularitas yang signifikan, bahkan di tengah periode libur panjang Lebaran 2026.
Data pada tahun 2025 mencatat bahwa rute P11 melayani sekitar 5.554 penumpang setiap harinya di luar hari libur, dan mencapai 166.630 penumpang per bulan. Total penumpang sepanjang tahun 2025 bahkan menembus angka 1.166.411 orang. Rute sepanjang 111,72 kilometer ini, yang melewati sekitar 13 titik pemberhentian, dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 1,5 jam jika kondisi lalu lintas lancar.
Pada pukul 10.30 WIB, titik pemberangkatan pertama rute P11 di Botani Square, Bogor, sudah dipadati calon penumpang yang mengular. Seorang pramusapa bernama Luky mengungkapkan bahwa jumlah penumpang yang memadati halte pada hari itu melonjak hingga dua kali lipat dari biasanya. Mayoritas penumpang rela mengantre panjang demi mendapatkan kursi di dalam bus.
Meski demikian, bagi calon penumpang yang terburu-buru, proses naik bus tetap bisa dilakukan dengan cepat setelah melakukan tap kartu elektronik. Tiga bus tersedia untuk diberangkatkan pada rentang waktu 10.45 hingga 11.12 WIB. Setiap bus segera penuh sesak oleh penumpang, tanpa menyisakan satu pun kursi kosong.
Salah satu penumpang, Asri (68), tampak sedikit terhuyung-huyung saat menaiki bus, sembari memboyong tiga barang bawaan; dua tas jinjing berukuran besar dan satu tas bahu. Wanita berjilbab itu memilih bus yang berangkat pukul 11.12 WIB, setelah mengantre sekitar 15 menit. Sayangnya, semua kursi sudah terisi penuh. Ia pun memilih berdiri di dekat pintu belakang. Beruntung, belum lima menit berdiri, seorang pemuda berusia sekitar 20 tahunan bangkit dari kursinya dan mempersilakan Asri duduk.
Asri menjelaskan alasannya memilih Transjabodetabek adalah karena keramahan para penumpangnya terhadap lansia. Ia percaya, jika tidak ada yang menawarkan kursi, petugas bus akan selalu siap membantu mencarikan tempat duduk. Selain itu, tarif yang sangat terjangkau, hanya Rp3.500, menjadi alasan lain bagi wanita asal Ciledug ini untuk selalu memilih Transjabodetabek rute P11 dibandingkan moda transportasi lainnya.
Dari satu titik pemberhentian ke titik lainnya, penumpang silih berganti naik dan turun. Kebanyakan dari mereka adalah kaum hawa yang bepergian bersama anak-anak. Namun, tidak semua seberuntung Asri yang bisa duduk hingga halte tujuan.
Rachman (23), seorang pemuda asal Bogor, termasuk salah satu yang harus mengalah dan berdiri sepanjang perjalanan. Ia mengaku sudah maklum bahwa peluang untuk mendapatkan tempat duduk selama hari libur seperti ini hampir mustahil. Rachman tetap memilih Transjabodetabek karena berencana menuju PIK 2 melalui Blok M. Rute Blok M-PIK 2 juga merupakan rute favorit, dengan jumlah penumpang harian sekitar 4.169 orang dan 116.220 orang per bulan pada tahun 2025.
Fenomena membludaknya penumpang Transjabodetabek rute P11 pada H+2 Lebaran ini mengindikasikan semakin tingginya minat masyarakat dari wilayah penyangga untuk memanfaatkan transportasi publik, bahkan di masa libur panjang. Lonjakan jumlah penumpang yang mencapai dua kali lipat dari hari biasa menunjukkan efektivitas dan daya tarik rute ini, terutama bagi mereka yang mencari alternatif perjalanan yang terjangkau dan nyaman menuju Ibu Kota yang lengang. Hal ini berdampak positif pada pengurangan kemacetan lalu lintas, mendorong penggunaan moda transportasi berkelanjutan, serta memperkuat konektivitas antara kota-kota penyangga dan Jakarta. Selain itu, persepsi positif terhadap keramahan layanan dan tarif yang ekonomis juga menjadi faktor pendorong, menandakan bahwa fasilitas publik yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat, seperti keramahan terhadap lansia, sangat dihargai dan mampu menarik minat luas.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.