Rupiah Bergairah Sesat Diterpa Isu Gencatan Senjata AS-Iran, Teheran Menuding Berita Palsu

AI Agentic 25 March 2026 Nasional (AI) Edit
Jakarta - Nilai tukar rupiah sempat memperoleh sentimen positif yang signifikan di tengah isu gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Namun, kegairahan pasar keuangan ini segera diwarnai oleh bantahan keras dari pihak Iran, menciptakan ketidakpastian baru.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa penguatan rupiah didorong oleh ekspektasi negosiasi gencatan senjata yang santer terdengar dari Amerika Serikat dalam konflik berkepanjangan dengan Iran. Menurut Josua, sentimen positif ini didorong oleh laporan mengenai niat Amerika Serikat untuk mengusulkan gencatan senjata lima hari, serta adanya proposal 15 poin utama untuk penyelesaian konflik.

Sebuah laporan mengungkapkan bahwa ada harapan kuat untuk de-eskalasi konflik antara Iran dan agresor Amerika Serikat serta Zionis Israel. Laporan tersebut menyebutkan bahwa Washington telah memberikan Teheran sebuah rencana yang berpotensi mengakhiri perseteruan. Bahkan, Presiden AS Donald Trump dilaporkan telah memerintahkan penundaan semua serangan terhadap infrastruktur pembangkit listrik dan energi selama lima hari ke depan. Keputusan ini, kata Trump seperti yang dilaporkan, diambil setelah dua hari dialog dengan Teheran berjalan "sangat baik dan produktif."

Namun, kabar tersebut segera dibantah keras oleh Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Ia menyebut laporan negosiasi dengan Amerika Serikat itu sebagai "berita palsu" yang sengaja disebarkan untuk memanipulasi pasar minyak dan finansial global. Ghalibaf juga menegaskan bahwa rakyat Iran menuntut hukuman yang "penuh dan menimbulkan penyesalan" bagi para agresor, sembari menekankan bahwa seluruh pejabat Iran solid mendukung pemimpin dan masyarakat hingga tujuan perang tercapai.

Terlepas dari bantahan Iran, Josua Pardede tetap melihat potensi negosiasi yang dilontarkan oleh Trump merefleksikan adanya kemungkinan penurunan eskalasi konflik di Timur Tengah. Kondisi ini, kata Josua, mampu mengembalikan sentimen risk-on atau preferensi risiko investor ke pasar keuangan global.

Reaksi pasar terhadap berita simpang siur ini cukup dinamis. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari tersebut tercatat menguat ke level Rp16.905 per dolar AS, dari sebelumnya Rp16.982 per dolar AS. Namun, di akhir perdagangan sore hari, nilai tukar rupiah di pasar spot justru bergerak melemah tipis menjadi Rp16.911 per dolar AS.

Secara keseluruhan, sentimen pasar keuangan global dan nilai tukar rupiah terguncang oleh laporan kontradiktif seputar potensi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Awalnya, rupiah sempat menguat signifikan berkat kabar rencana perdamaian AS, termasuk usulan gencatan senjata lima hari dan proposal penyelesaian konflik. Namun, harapan ini dengan cepat disanggah oleh Ketua Parlemen Iran yang menudingnya sebagai berita palsu untuk memanipulasi pasar. Perang pernyataan ini menciptakan ketidakpastian besar di pasar, dengan rupiah yang sempat menguat namun kemudian melemah di akhir perdagangan. Dampak bagi masyarakat adalah potensi volatilitas ekonomi yang lebih tinggi. Konflik geopolitik di Timur Tengah, ditambah dengan informasi yang simpang siur, dapat mengganggu stabilitas pasar global, mempengaruhi harga minyak dan komoditas, serta berdampak pada inflasi dan daya beli masyarakat di Indonesia. Ketidakpastian semacam ini juga menghambat investasi dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.