Bukan Lagi Sumber Daya Alam! Rektor Unhas Beberkan Kunci Utama Daya Saing Lulusan di Era Disrupsi Global
Makassar – Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas), Profesor Jamaluddin Jompa, menegaskan bahwa adaptasi global dan penguasaan teknologi menjadi kunci utama untuk meningkatkan daya saing individu dan bangsa. Pernyataan ini disampaikan Profesor Jamaluddin Jompa, yang akrab disapa Prof JJ, dalam sebuah kesempatan di Makassar.
Profesor JJ menyoroti urgensi bagi para lulusan untuk memperkuat kapasitas adaptif, literasi teknologi, dan mengembangkan pola pikir yang terus berkembang. Menurutnya, fondasi ini sangat penting sebagai bekal dalam merespons transformasi global yang kini tengah terjadi. Ia menjelaskan, dinamika global yang ditandai oleh krisis energi, eskalasi geopolitik, dan disrupsi teknologi telah mengubah secara signifikan struktur ekonomi dan pasar kerja. Dalam konteks perubahan ini, setiap lulusan dituntut untuk memiliki kapasitas adaptasi yang tinggi serta kemampuan membaca dan menganalisis perubahan sebagai bagian dari strategi keberlanjutan karier mereka.
Lebih jauh, Profesor JJ menekankan bahwa penguasaan teknologi kini menjadi penentu utama daya saing. Pergeseran paradigma global menunjukkan bahwa kekuatan suatu bangsa tidak lagi semata-mata ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam, melainkan oleh kapasitas inovasi dan sejauh mana suatu bangsa mampu menguasai teknologi.
"Dunia kerja hari ini tidak hanya membutuhkan tenaga teknis, tetapi individu yang mampu belajar cepat, berpikir kritis, dan beradaptasi dalam situasi yang terus berubah," ujar Profesor JJ di hadapan para wisudawan. Ia menambahkan, seiring dengan berbagai perubahan tersebut, kebutuhan industri juga mengalami pergeseran menuju kompetensi yang lebih adaptif. Konsep "learning agility" menjadi sangat krusial, yakni kemampuan individu untuk belajar secara cepat, beradaptasi dengan lingkungan baru, dan menyelesaikan persoalan kompleks secara efektif.
Selain learning agility, Profesor JJ juga menggarisbawahi pentingnya kemampuan berpikir kritis sebagai fondasi untuk menghadapi era disrupsi informasi yang masif. Literasi digital, menurutnya, tidak lagi sebatas pada aspek operasional dalam menggunakan teknologi, tetapi juga mencakup kemampuan untuk mengevaluasi validitas informasi serta membangun argumen yang berbasis pada data.
"Literasi digital bukan sekadar mampu menggunakan teknologi, tetapi bagaimana kalian mampu berpikir kritis, memilah informasi, dan menghasilkan solusi yang bertanggung jawab," tambah Profesor JJ. Ia juga memposisikan "growth mindset" atau pola pikir berkembang sebagai faktor kunci dalam mendukung keberhasilan adaptasi individu di tengah berbagai tantangan.
Secara keseluruhan, Rektor Unhas, Profesor Jamaluddin Jompa, menyampaikan pandangan vital mengenai pentingnya penguasaan teknologi, kapasitas adaptif yang tinggi, literasi digital yang mendalam, kemampuan berpikir kritis, dan pola pikir berkembang sebagai bekal utama bagi lulusan untuk bersaing di tengah transformasi global yang cepat. Implikasi dari pandangan ini sangat besar bagi masyarakat, menuntut adanya penyesuaian signifikan dalam kurikulum pendidikan dan strategi pengembangan diri. Masyarakat harus menyadari bahwa pasar kerja di masa depan akan lebih menghargai kemampuan belajar berkelanjutan, adaptasi terhadap perubahan, dan keterampilan pemecahan masalah yang kompleks, bukan hanya keahlian teknis semata, demi menjaga relevansi individu dan keberlanjutan ekonomi bangsa.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.