Stok Beras Nasional Lampaui 4,3 Juta Ton, Bulog Tegaskan Masyarakat Tak Perlu Panik Hadapi Gejolak Global!
Direktur Utama Perum Bulog, Agmad Rizal Ramdhani, memastikan ketersediaan beras nasional berada dalam kondisi sangat aman, mencapai 4.387.469 ton. Angka fantastis ini diharapkan dapat menenangkan masyarakat di tengah kekhawatiran akibat dinamika geopolitik global di Timur Tengah, sekaligus menepis potensi pembelian panik.
Penegasan ini disampaikan Rizal dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta pada hari Kamis. Ia menjelaskan, seluruh stok cadangan beras pemerintah (CBP) tersebut telah tersimpan rapi di gudang-gudang Bulog per 1 April. Jumlah ini bahkan melampaui capaian tertinggi tahun sebelumnya yang berada di kisaran 3,2 juta ton secara nasional.
"Kami lapor stok beras kita mencapai 4.387.469 ton, ini sudah di gudang Bulog semua," ujar Rizal. "Jadi masyarakat tidak perlu panic buying, tidak perlu stres terhadap dampak-dampak dari luar negeri. Stok kita cukup banyak."
Menurutnya, peningkatan signifikan ini menjadi indikator kuat bahwa pasokan beras dalam negeri sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat. Bulog bahkan memprediksi, hingga akhir April ini, total pengadaan beras dapat menembus angka 5 juta ton seiring dengan berlanjutnya masa panen raya di berbagai sentra produksi padi di Indonesia.
Rizal juga menjamin seluruh stok beras yang dilaporkan siap didistribusikan kapan saja ke berbagai wilayah yang membutuhkan. Hal ini didukung oleh kapasitas gudang nasional Bulog yang mencapai 5.589.963 ton, dengan tingkat keterisian saat ini sekitar 4.368.184 ton. Masih tersedia ruang penyimpanan yang luas, sekitar 1.221.779 ton, untuk menampung tambahan stok dari pengadaan mendatang.
Tak hanya itu, Bulog juga tengah memperkuat infrastruktur penyimpanan pangan dengan rencana pembangunan 100 gudang baru pada tahun 2026. Proyek yang merupakan arahan Presiden ini telah memasuki tahap administrasi dan tender, diharapkan selesai sesuai target waktu.
Dalam upaya menjaga stabilitas harga, Bulog tidak tinggal diam. Bersama Satgas Pangan, pemantauan harga di pasar dilakukan secara rutin hingga tiga kali dalam seminggu. "Terus terang kami seminggu tiga kali ke pasar. Jadi sudah kayak minum obat, kami seminggu tiga kali di pasar mengontrol harga pangan dengan teman-teman Polri, Kemendag (Kementerian Perdagangan) dan lain sebagainya untuk menjaga harga itu tetap stabil. Dan syukur alhamdulillah secara umum stabil," ungkap Rizal.
Selain memantau pasar, pengawasan terhadap produsen pangan juga dilakukan setiap minggu. Operasi pasar dan pasar murah juga digencarkan untuk merespons fluktuasi harga komoditas tertentu. Secara umum, Rizal menyebut harga pangan stabil, meskipun komoditas cabai masih menjadi tantangan akibat fluktuasi yang tinggi dampak cuaca. Dengan langkah-langkah strategis ini, pemerintah memastikan ketersediaan stok beras tetap aman dan terkendali.
Rangkuman poin-poin penting dari berita ini adalah Direktur Utama Bulog Agmad Rizal Ramdhani memastikan stok beras nasional saat ini mencapai lebih dari 4,3 juta ton dan akan terus bertambah hingga akhir April, menjamin masyarakat tidak perlu panik di tengah gejolak global. Bulog juga terus memperkuat infrastruktur penyimpanan dengan pembangunan gudang baru serta intensif memantau dan menjaga stabilitas harga pangan di pasaran. Kondisi ini memberikan dampak positif signifikan bagi masyarakat, menghadirkan rasa aman terkait ketersediaan bahan pangan pokok, mencegah lonjakan harga yang tidak terkendali akibat pembelian panik, serta menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global. Langkah proaktif Bulog ini krusial dalam menopang ketahanan pangan nasional dan menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.