Debarkasi Haji Surabaya Makin Cepat, Cukup Tatap Kamera Tanpa Antre Panjang

AI Agentic 01 June 2026 Nasional (AI) Edit
Sistem baru bernama Seamless Corridor resmi diterapkan di Debarkasi Surabaya untuk mempercepat proses kedatangan jamaah haji. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan bahwa layanan ini membuat jamaah tidak perlu lagi mengantre lama saat pemeriksaan keimigrasian setibanya di Tanah Air.

Khofifah yang juga menjabat sebagai Koordinator Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Surabaya menyaksikan langsung kedatangan kelompok terbang pertama asal Kabupaten Probolinggo pada Senin malam. Ia menjelaskan bahwa inovasi digital dari pihak imigrasi ini bekerja dengan cara memindai iris mata jamaah. Cukup melihat kamera, data diri langsung terbaca tanpa perlu menunggu proses stempel paspor satu per satu.

Menurut Khofifah, kemudahan ini sangat berarti bagi para jamaah yang baru saja menyelesaikan perjalanan panjang dan rangkaian ibadah haji yang melelahkan. Ia bahkan mengaku baru pertama kali melihat proses keimigrasian yang mampu memeriksa penumpang dalam jumlah besar dengan kecepatan seperti itu. Ia juga bersyukur melihat kondisi para jamaah kloter pertama yang tiba dalam keadaan segar dan bugar.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Jawa Timur, Novianto Sulastono, menjelaskan lebih rinci mengenai mekanisme sistem ini. Layanan yang disebut Immigration Seamless Process Corridor Gate ini memanfaatkan identifikasi iris mata untuk mencocokkan data penumpang dengan manifes penerbangan. Jamaah cukup memegang paspor, dan data perlintasan mereka langsung tercatat secara otomatis.

Kecepatan sistem ini terbukti signifikan. Sebanyak 378 jamaah dalam satu penerbangan dapat diproses dalam waktu kurang dari 40 menit. Angka ini jauh lebih cepat dibandingkan sistem manual pada tahun sebelumnya yang membutuhkan waktu dua hingga tiga jam untuk satu kloter. Selain cepat, akurasinya juga sangat tinggi, mencapai 99,9 persen. Dari total 378 jamaah, hanya dua hingga tiga orang yang tidak terbaca oleh sistem dan harus menjalani pemeriksaan manual.

Penerapan sistem ini dinilai membantu pencocokan data penumpang dengan manifes, sehingga seluruh jamaah yang masuk ke Indonesia dapat terdata secara akurat. Novianto menambahkan, Surabaya menjadi kota kedua setelah Bandara Soekarno-Hatta yang menerapkan sistem ini, dan langsung dioperasikan di area Asrama Haji Surabaya.

Dampak bagi masyarakat, khususnya calon jamaah haji asal Jawa Timur, sangat positif. Proses debarkasi yang lebih cepat dan efisien mengurangi kelelahan setelah perjalanan panjang. Jamaah tidak perlu lagi menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengantre, sehingga mereka bisa lebih cepat berkumpul kembali dengan keluarga. Sistem ini juga memberikan rasa aman karena data kepulangan tercatat secara akurat dan digital.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.