Indonesia dan Australia Perkuat Kerja Sama Riset dan Beasiswa untuk Pembangunan Berkelanjutan
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto baru saja menerima kunjungan kehormatan dari delegasi Australia di Jakarta. Pertemuan ini digelar untuk memperkuat kemitraan strategis di bidang riset dan pendidikan tinggi, dengan fokus utama mendukung agenda pembangunan berkelanjutan.
Dalam keterangan resminya pada Jumat, Mendiktisaintek menekankan bahwa kerja sama yang telah terjalin antara kedua negara sudah memberikan kontribusi penting bagi pengembangan talenta Indonesia. Hal ini terlihat dari berbagai program pendidikan dan beasiswa yang telah berjalan. Ia menyatakan keinginan untuk membangun kemitraan yang lebih erat dengan universitas-universitas di Australia. Tujuannya adalah untuk menghasilkan pendidikan dan penelitian berkelas dunia, sekaligus memperkuat kapasitas inovasi dan daya saing Indonesia.
Menteri Brian berharap ke depannya akan tercipta kerja sama yang lebih terintegrasi antara pendidikan tinggi, penelitian, dan inovasi. Kolaborasi ini diharapkan melibatkan berbagai pemangku kepentingan agar dapat memberikan dampak yang lebih nyata bagi masyarakat. Ia juga menyampaikan sejumlah prioritas pembangunan nasional yang membutuhkan dukungan dari sektor pendidikan tinggi, sains, dan teknologi. Prioritas tersebut meliputi ketahanan energi, ketahanan pangan, pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan, dan hilirisasi industri. Terkait sektor energi, ia mendorong penguatan kemandirian energi nasional melalui pengembangan teknologi yang lebih efisien, aman, dan berkelanjutan, serta peningkatan pemanfaatan hasil riset dan inovasi untuk mendukung transisi energi.
Menanggapi hal tersebut, Chief Scientist Australia, Tony Haymet, mengungkapkan berbagai peluang penguatan kerja sama sains, riset, dan inovasi. Peluang tersebut mencakup penguatan infrastruktur riset, peningkatan investasi penelitian dan pengembangan (R&D), pemanfaatan hasil riset, serta penguatan kemitraan antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan pemerintah. Ia juga menegaskan komitmen Australia terhadap kerja sama pendidikan melalui program Australia Awards Scholarships. Program ini setiap tahunnya menyediakan lebih dari 760 beasiswa bagi mahasiswa Indonesia, termasuk 10 beasiswa pascasarjana khusus untuk kepala sekolah dan guru Sekolah Garuda.
Kedua pihak juga membahas pengembangan desain baru program Australia Awards pasca-2027. Rencananya, desain baru ini akan memperluas format beasiswa, memperkuat kemitraan kelembagaan, serta menyesuaikan program dengan prioritas strategis kedua negara. Selain itu, mereka juga mendiskusikan peluang keterlibatan ilmuwan terkemuka Australia, termasuk peraih Nobel, dalam berbagai forum ilmiah dan konferensi internasional di Indonesia. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat jejaring akademik dan kolaborasi riset antara kedua negara.
Kunjungan Chief Scientist Australia ke Indonesia merupakan bagian dari upaya memperkuat diplomasi sains. Melalui dialog kebijakan, pertukaran pengetahuan, serta penjajakan kolaborasi riset strategis, kedua negara berkomitmen untuk mendukung pembangunan berkelanjutan dan peningkatan ketahanan nasional.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.