Rupiah Menguat 129 Poin, Pemerintah Genjot Ekspor Manufaktur hingga 30 Persen
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencatatkan penguatan signifikan dalam sepekan terakhir. Pada penutupan perdagangan Jumat sore, rupiah berhasil menguat 129 poin atau 0,71 persen ke level Rp17.860 per dolar AS, naik dari posisi sebelumnya yang berada di Rp17.989 per dolar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa penguatan ini dipicu oleh kombinasi sentimen domestik yang berhasil meredakan kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia. Hal ini menjadi angin segar bagi stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan global.
Di sisi lain, pemerintah terus berupaya meningkatkan daya saing industri dalam negeri. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan target ambisius untuk meningkatkan porsi pasar ekspor industri manufaktur dari 20 persen menjadi 30 persen. Saat ini, komposisi penjualan produk manufaktur masih didominasi pasar domestik dengan 80 persen untuk kebutuhan dalam negeri dan hanya 20 persen untuk ekspor. Menperin menegaskan bahwa target ini tidak akan mengurangi kemampuan industri dalam memenuhi kebutuhan nasional.
Dari sisi kebijakan pangan, Menteri Perdagangan Budi Santoso memutuskan bahwa Minyakita tidak lagi dialokasikan untuk program bantuan pangan pemerintah. Seluruh pasokan minyak goreng rakyat tersebut akan difokuskan untuk distribusi di pasar rakyat guna memenuhi kebutuhan masyarakat secara langsung.
Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto menerima hasil kajian Dewan Ekonomi Nasional (DEN) mengenai dampak program Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pertemuan yang digelar di Istana Kepresidenan RI itu dipimpin oleh Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan, serta dihadiri anggota DEN Septian Hario Seto, Mochammad Firman Hidayat, dan ekonom senior Chatib Basri. Kajian ini dinilai positif bagi pemberdayaan UMKM.
Di sektor energi, Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga bahan bakar minyak non-subsidi. Mulai 10 Juni 2026, harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sementara Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Kenaikan ini tentu akan berdampak langsung pada biaya transportasi dan logistik masyarakat.
Analisis: Rangkaian kebijakan ini menunjukkan upaya pemerintah untuk menstabilkan ekonomi dari berbagai sisi. Penguatan rupiah memberikan kepercayaan diri bagi pasar, sementara target ekspor manufaktur diharapkan dapat meningkatkan devisa negara. Namun, kenaikan harga BBM non-subsidi menjadi tantangan tersendiri bagi daya beli masyarakat, terutama di sektor transportasi dan industri kecil. Fokus pemerintah pada distribusi Minyakita di pasar rakyat juga menjadi langkah strategis untuk menjaga keterjangkauan harga kebutuhan pokok.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.