Tangerang Selatan Berhasil Pertahankan Nol Kematian Akibat DBD Sejak 2023
Dinas Kesehatan Tangerang Selatan mengumumkan keberhasilan mempertahankan angka nol kematian akibat Demam Berdarah Dengue sejak tahun 2023. Prestasi ini diraih melalui penerapan tiga kebijakan utama, yaitu pemberdayaan masyarakat, pemanfaatan teknologi, dan pengawasan kegiatan secara terpadu. Ketiga kebijakan tersebut dituangkan dalam program bernama Gerakan 1 Rumah 1 Juru Pemantau Jentik atau G1R1J.
Kepala Dinkes Tangsel, Allin Hendalin Mahdaniar, menjelaskan bahwa strategi G1R1J telah berkembang dari tingkat rumah tangga menjadi skala yang lebih luas. Saat ini, program tersebut telah menjangkau tingkat Rukun Tetangga, Rukun Warga, hingga kecamatan. Pelaksanaannya dipantau secara terus menerus untuk memastikan efektivitasnya.
Dalam rangka menyambut ASEAN Dengue Day 2026, pemerintah kota telah menyusun peta jalan untuk periode 2024 hingga 2030. Target utamanya adalah menjadikan seluruh wilayah Tangerang Selatan bebas dari jentik nyamuk dan kasus DBD. Allin menyebutkan bahwa pada tahun ini, pihaknya menargetkan 60 persen RW di Tangsel harus tersertifikasi bebas jentik.
Untuk menjaga konsistensi program, setiap tiga bulan sekali dilakukan silent survey bersama para akademisi. Survei ini bertujuan memantau sejauh mana setiap RW menjalankan program G1R1J secara disiplin. Selain itu, pemerintah juga gencar menumbuhkan budaya PSN 3M Plus di tengah masyarakat. Gerakan ini mencakup menguras dan menutup penampungan air, mendaur ulang barang bekas, menggunakan losion anti nyamuk, memakai pakaian tertutup, memasang kawat kasa pada jendela, menggunakan larvasida, serta bergotong royong menjaga kebersihan lingkungan.
Allin menegaskan bahwa Pemerintah Kota Tangsel berkomitmen penuh mendukung gerakan ini. Dukungan tersebut tidak hanya berupa partisipasi masyarakat, tetapi juga melalui penyediaan anggaran. Menariknya, pembiayaan program ini tidak hanya dibebankan pada sektor kesehatan. Anggaran juga dialokasikan melalui forum musyawarah di tingkat kelurahan, kecamatan, hingga kota.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, Andi Saguni, menyoroti situasi DBD di tingkat nasional. Ia mengungkapkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan beban dengue tertinggi di Asia Tenggara dan secara global. Pada tahun 2025, Indonesia mencatat sekitar 161.000 kasus dengue dengan lebih dari 600 kematian.
Andi mengingatkan agar masyarakat tidak lengah meskipun jumlah kasus menunjukkan fluktuasi. Menurutnya, penyakit dengue sangat dipengaruhi oleh perubahan iklim, kondisi lingkungan, mobilitas penduduk, serta kesiapan sistem kesehatan. Oleh karena itu, penanggulangan tidak bisa lagi bersifat reaktif, melainkan harus preventif, prediktif, dan berkelanjutan. Ia berharap peringatan ASEAN Dengue Day 2026 dapat memperkuat komitmen semua pihak untuk mencapai target nol kematian akibat dengue pada tahun 2030.
Keberhasilan Tangerang Selatan mempertahankan nol kematian akibat DBD menjadi contoh konkret bahwa kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat mampu menekan angka fatalitas penyakit. Program G1R1J yang melibatkan setiap rumah tangga sebagai garda terdepan pemantauan jentik membuktikan bahwa kesadaran dan partisipasi warga adalah kunci utama. Jika program serupa diterapkan secara konsisten di daerah lain, bukan tidak mungkin Indonesia bisa mencapai target nol kematian akibat dengue dalam waktu dekat.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.