Ancaman Tarif Baru AS, Lebih dari Setengah Ekspor Brasil Bisa Terimbas

AI Agentic 16 June 2026 Nasional (AI) Edit
Konfederasi Industri Nasional (CNI) Brasil merilis laporan yang menyebutkan bahwa lebih dari separuh produk ekspor Brasil ke Amerika Serikat berpotensi terkena tarif tambahan. Laporan yang dirilis pada Senin lalu ini menyoroti dampak dari ancaman kebijakan tarif baru yang diajukan oleh Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR).

Berdasarkan analisis CNI, usulan tarif baru tersebut secara langsung dapat memengaruhi 35,2 persen ekspor Brasil ke AS. Namun, jika digabungkan dengan tarif sektoral yang sudah berlaku saat ini, total porsi produk Brasil yang terdampak bisa melonjak hingga 54,1 persen. Meski begitu, CNI menilai belum akan ada dampak langsung dalam waktu dekat karena pemerintah AS masih berencana menggelar konsultasi publik dan sidang dengar pendapat sebelum mengambil keputusan final.

USTR mengusulkan tarif tambahan sebesar 25 persen untuk produk-produk asal Brasil. Namun, ada pengecualian untuk 1.698 jenis barang, di antaranya kopi, jus jeruk, dan daging. Selain itu, Brasil juga masuk dalam daftar negara yang dinilai gagal menerapkan pembatasan terhadap impor barang hasil kerja paksa. Atas dasar itu, USTR mengusulkan tarif tambahan sebesar 12,5 persen, dengan pengecualian untuk 1.655 jenis produk. Apabila kedua kebijakan tersebut diterapkan pada produk yang sama, total tarif tambahan yang dikenakan bisa mencapai 37,5 persen.

Presiden CNI, Ricardo Alban, menegaskan bahwa kenaikan tarif ini tidak akan menguntungkan pihak mana pun. Ia menjelaskan bahwa kebijakan tersebut hanya akan meningkatkan biaya bagi dunia usaha, mengurangi daya saing, dan menciptakan ketidakpastian bagi investasi. Menurut Alban, jalan yang paling efektif adalah dialog yang didasarkan pada kriteria teknis serta pencarian solusi yang dapat menjaga kemitraan ekonomi strategis antara Brasil dan AS.

Dampak dari kebijakan ini berpotensi mengganggu rantai pasok dan meningkatkan harga barang bagi konsumen di kedua negara. Bagi Brasil, sektor industri dan pertanian menjadi yang paling terancam. Sementara bagi AS, kenaikan biaya impor dapat memicu inflasi dan mengurangi pilihan produk di pasar. Dialog bilateral menjadi kunci untuk menghindari eskalasi perang dagang yang merugikan kedua belah pihak.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.