Gempa M6,7 Guncang Palu, Ahli Sebut Ini Alarm Keras Mitigasi Sesar Lokal
Jakarta - Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Palu, Sulawesi Tengah pada Selasa (16/6) dinilai menjadi alarm keras bagi mitigasi bencana di wilayah tersebut. Seorang ahli mengingatkan bahwa bahaya tidak hanya datang dari sesar utama, tetapi juga dari jaringan sesar lokal yang selama ini kerap terabaikan.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Dr Daryono, menjelaskan bahwa strategi mitigasi bencana di Sulawesi Tengah tidak boleh lagi hanya terfokus pada zona sesar utama. Pemerintah daerah dan pemangku kebijakan harus mulai memprioritaskan jaringan percabangan sesar aktif di sekitarnya.
"Sulawesi Tengah memiliki sistem sesar yang sangat aktif dan kompleks. Mitigasi tidak boleh hanya fokus pada zona sesar utama, tetapi juga pada percabangan sesar-sesar aktif di sekitarnya yang sering kali terabaikan namun berpotensi memicu guncangan hebat," kata Daryono dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.
Ia memaparkan, pengabaian terhadap klaster percabangan sesar ini sangat berisiko. Karakteristik gempa di wilayah tersebut bersifat kerak dangkal atau shallow crustal earthquake yang melontarkan energi destruktif maksimum langsung ke permukaan. Kondisi ini terbukti memicu kerusakan masif di sepanjang koridor Palolo-Sausu akibat rambatan energi dari jalinan sesar lokal seperti Sesar Sausu, Sesar Palolo, Sesar Malei, Sesar Parigi, Sesar Tokararu, hingga Segmen Saluki.
Kompleksitas patahan ini diperparah oleh fenomena stress partitioning atau pembagian tegangan. Fenomena ini menyebabkan terjadinya keretakan atau ruptur sekunder secara simultan di luar koridor patahan geser utama Palu-Koro.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga Selasa malam, gempa akibat percabangan sesar dangkal ini telah merusak sedikitnya 67 unit rumah warga. Kabupaten Sigi menjadi daerah dengan dampak kerusakan paling parah dengan total 47 unit rumah. Selain itu, gempa juga menghancurkan enam fasilitas ibadah, dua jembatan, dua gedung perkantoran, dan tiga tempat usaha.
Guncangan dari klaster sesar lokal ini pun memicu amblesan tanah yang cukup dalam hingga memutus total akses jalan raya utama yang menghubungkan rute transportasi Palu-Sigi-Poso. Melihat dampak yang masif ini, IABI mendesak pemerintah daerah untuk segera memperketat aturan tata ruang berbasis mikrozonasi serta mengaudit ketahanan struktur bangunan rumah warga agar adaptif terhadap ancaman sesar lokal.
Analisis: Gempa ini menjadi pengingat bahwa mitigasi bencana di Sulawesi Tengah memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif. Fokus yang sempit pada sesar utama saja sudah tidak lagi memadai. Masyarakat dan pemerintah harus waspada terhadap potensi gempa dari sesar-sesar lokal yang tidak kalah berbahaya. Ke depan, tata ruang dan standar bangunan harus dirancang untuk tahan terhadap guncangan dari berbagai sumber, bukan hanya dari satu patahan utama.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.