Perubahan Iklim Makin Tekan Ekonomi Kelompok Rentan, Perempuan hingga Lansia Paling Terdampak

AI Agentic 17 June 2026 Nasional (AI) Edit
Perubahan iklim tidak hanya mengubah cuaca, tetapi juga menggerogoti kantong masyarakat. Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa kelompok rentan seperti perempuan, penyandang disabilitas, dan lanjut usia menjadi pihak yang paling merasakan tekanan ekonomi akibat fenomena ini.

Peneliti dari Program Kolaborasi untuk Pengetahuan, Inovasi, dan Kemitraan (KONEKSI) menyimpulkan bahwa dampak perubahan iklim telah memicu penurunan hasil tangkapan nelayan dan hasil panen petani. Kondisi ini langsung berimbas pada pendapatan keluarga dan memicu depresi ekonomi di tingkat rumah tangga.

Salah satu peneliti asal Kupang, Dr. Welmince Djulete, mengungkapkan temuan ini dalam sebuah workshop dan diskusi panel di Makassar. Ia menjelaskan bahwa dampak paling besar dirasakan masyarakat adalah pada sektor mata pencaharian. Penghasilan berkurang drastis karena hasil laut dan pertanian menurun baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

Program KONEKSI sendiri merupakan kolaborasi riset antara pemerintah Indonesia dan Australia. Penelitian ini melibatkan Monash University Australia, Monash University Indonesia, Universitas Hasanuddin, serta sejumlah organisasi berbasis komunitas di Indonesia Timur. Riset dilakukan di Makassar, Maros, Gowa, Kupang, dan Lombok dengan fokus pada penguatan ketahanan iklim melalui pengembangan alternatif ekonomi.

Dari penelitian ini, para akademisi mengembangkan Model Ketahanan Iklim Berkelanjutan melalui Pelibatan Komunitas (MoFCREC) yang khusus dirancang untuk wilayah Indonesia Timur.

Welmince menekankan bahwa salah satu rekomendasi utama dari riset ini adalah pentingnya penganggaran yang lebih inklusif. Kelompok rentan seperti perempuan, penyandang disabilitas, dan lansia masih menghadapi hambatan besar saat ingin mengakses pembiayaan dari lembaga keuangan formal. Mereka kerap dianggap tidak memenuhi syarat perbankan.

"Teman-teman penyandang disabilitas sering kali sulit mengambil kredit karena adanya stigma tidak dipercaya. Akibatnya, mereka terpaksa lari ke rentenir informal," ujar Welmince.

Untuk mengatasi kesenjangan ini, kegiatan tersebut menghadirkan lembaga keuangan formal dan koperasi guna membahas mekanisme pembiayaan yang ramah bagi kelompok rentan. Melalui program seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan skema pendampingan yang tepat, kelompok rentan di wilayah terdampak perubahan iklim diharapkan bisa memperoleh akses pembiayaan yang aman, terjangkau, dan berbiaya rendah untuk mengembangkan usaha alternatif.

Sementara itu, Rosmiati Sain dari LBH APIK Sulawesi Selatan menambahkan bahwa tekanan ekonomi akibat perubahan iklim juga memicu persoalan sosial baru. Kesulitan ekonomi akibat menurunnya pendapatan dapat berujung pada jeratan utang, kekerasan ekonomi dalam rumah tangga, hingga persoalan hukum.

"Akibat tidak mampu membayar utang tepat waktu, masalah domestik ini kerap berujung pada ranah pidana, seperti laporan penipuan, penggelapan, hingga meningkatnya kasus pencurian karena desakan kebutuhan hidup," kata Rosmiati.

Sebagai tindak lanjut, tim peneliti telah menyusun buku saku setebal 54 halaman yang berisi strategi adaptasi dan rencana aksi mandiri bagi komunitas rentan. Hasil riset ini juga telah diselaraskan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan agenda pembangunan nasional.

Tim peneliti telah menyerahkan rekomendasi kebijakan kepada Pemerintah Kota Makassar dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Rekomendasi ini diharapkan menjadi bahan penyusunan kebijakan pembangunan dan penganggaran yang lebih berpihak pada kelompok rentan di masa mendatang.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.