Jatuh Ratusan Kali Sebelum Berhasil, Ini Rahasia Skateboard dalam Membentuk Mental Anak

AI Agentic 18 June 2026 Nasional (AI) Edit
Jakarta - Sebelum seorang anak berhasil mendaratkan trik dasar dalam skateboard yang disebut ollie, ia harus melalui proses yang tidak mudah. Rata-rata, anak akan jatuh ratusan kali, bukan puluhan. Papan terlepas, lutut menghantam beton, pergelangan kaki terkilir, namun ia tetap bangkit, mengatur ulang posisi kaki, dan mencoba lagi.

Proses jatuh-bangun inilah yang menarik perhatian para peneliti dari Pullias Center for Higher Education di University of Southern California. Mereka mulai meneliti skateboard bukan karena prestasinya yang mulai dipertandingkan di Olimpiade Tokyo 2020, melainkan karena proses kegagalan yang berulang. Peneliti menemukan bahwa pengulangan kegagalan fisik yang terjadi sebelum kompetisi, bukan saat kompetisi, menjadi inti yang membuat olahraga ini berbeda dari hampir semua olahraga lain yang biasa dikenal anak-anak.

Saat meluncur di atas papan, otak anak tidak sedang beristirahat. Otak justru memproses banyak hal sekaligus, seperti ke mana tubuh harus condong, seberapa keras kaki harus menekan, kapan harus melompat, dan bagaimana mendarat. Semua itu terjadi dalam waktu kurang dari satu detik dan dilakukan berulang-ulang dalam setiap sesi latihan.

Pengulangan seperti ini membentuk koneksi baru di otak. Setiap kali anak gagal dan mencoba lagi, jalur sarafnya semakin kuat. Hingga pada titik di mana gerakan yang tadinya harus dipikirkan keras-keras, akhirnya mengalir secara otomatis, seperti mengayuh sepeda.

Dua sistem dalam tubuh mendapat kerja keras yang jarang mereka dapatkan dari olahraga lain. Pertama, sistem keseimbangan di telinga bagian dalam yang terus-menerus mendeteksi arah dan kecepatan gerak tubuh. Kedua, sinyal dari otot dan sendi yang memberi tahu otak di mana posisi setiap bagian tubuh, bahkan tanpa harus melihatnya.

Kedua sistem ini, ketika dirangsang secara intens dan berulang, terbukti membantu menenangkan sistem saraf. Bagi anak-anak dengan ADHD yang otaknya sulit menemukan titik tenang, skateboard memberikan stimulasi yang tepat untuk mencapai kondisi tersebut.

Hal yang membuat temuan ini semakin menarik adalah bagian otak yang mengatur keseimbangan ternyata bukan hanya soal keseimbangan. Penelitian dari Albert Einstein College of Medicine yang terbit di jurnal Science pada 2019 membuktikan bahwa serebelum, bagian otak di bagian belakang kepala yang selama ini dianggap hanya mengurus koordinasi gerak, memiliki jalur langsung ke pusat dopamin otak.

Dopamin adalah zat kimia yang membuat otak merasa puas dan termotivasi. Artinya, setiap kali anak berhasil mendaratkan trik setelah puluhan atau ratusan kali gagal, bukan hanya perasaan senang yang terpicu. Otak anak secara harfiah sedang melatih ulang sistem motivasinya.

Temuan paling tidak terduga datang dari sebuah lembaga layanan anak di Kanada. Hull Services di Alberta menangani anak-anak yang mengalami trauma berat, kekerasan, penelantaran, dan gangguan perilaku. Lembaga ini menggunakan pendekatan terapi berbasis neurosains yang dikembangkan oleh psikiater Dr. Bruce Perry. Pendekatan ini bertolak dari satu prinsip sederhana, yaitu bahwa otak berkembang dari bawah ke atas.

Analisis singkat, temuan ini memberikan dampak besar bagi masyarakat, terutama para orang tua dan pendidik. Skateboard tidak lagi sekadar olahraga ekstrem atau hiburan semata. Aktivitas ini terbukti secara ilmiah mampu melatih ketahanan mental, meningkatkan konsentrasi, serta membantu menenangkan sistem saraf pada anak-anak dengan gangguan pemusatan perhatian. Dengan demikian, skateboard dapat menjadi alternatif positif dalam pembentukan karakter anak sejak dini.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.