Puluhan Ribu Warga Mulai Kembali ke Lebanon Selatan, namun Lebih dari 100 Ribu Masih Mengungsi
Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan bahwa hampir 50.000 warga sipil telah kembali ke rumah mereka di Lebanon selatan. Meski demikian, lebih dari 100.000 orang lainnya masih bertahan di tempat penampungan kolektif di berbagai wilayah negara tersebut.
Juru Bicara PBB, Stephane Dujarric, pada Kamis (18/6) mengungkapkan data dari Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA). Menurutnya, hampir 50.000 orang kini telah pulang ke Provinsi Nabatieh dan Lebanon Selatan. Namun, lebih dari 106.000 jiwa masih berada di lokasi penampungan kolektif di seluruh negeri, sementara banyak lainnya mencari perlindungan di tempat lain.
Dujarric menjelaskan bahwa para mitra kemanusiaan memperingatkan kondisi keamanan yang belum stabil, kerusakan yang meluas, serta terbatasnya akses terhadap layanan dasar. Faktor-faktor ini masih menjadi hambatan utama bagi banyak warga untuk kembali ke rumah mereka.
Pasukan Sementara PBB di Lebanon atau UNIFIL mencatat 143 lintasan proyektil pada Kamis. Sebanyak 19 di antaranya dikaitkan dengan pasukan Israel, sementara sisanya berasal dari kelompok Hizbullah. Sehari sebelumnya, UNIFIL mencatat 364 lintasan proyektil, dengan 330 di antaranya dikaitkan dengan pasukan Israel dan 34 lainnya dengan Hizbullah.
UNIFIL juga melaporkan 38 pelanggaran wilayah udara Lebanon pada Rabu, meskipun tidak ada pelanggaran yang tercatat pada Kamis di area operasi pasukan penjaga perdamaian PBB itu. Dujarric menambahkan, pasukan penjaga perdamaian terus mengamati aktivitas darat yang luas oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF) di seluruh wilayah operasi misi tersebut.
Ia juga menyinggung insiden pada Rabu ketika konvoi UNIFIL dihambat oleh dua tank Israel di utara Kota Tyre. Selama insiden tersebut, salah satu tank mengarahkan senjatanya ke kendaraan UNIFIL. Personel Israel memberi isyarat kepada konvoi untuk berhenti, sehingga patroli terpaksa menghentikan perjalanan dan berbalik arah sebelum akhirnya diizinkan menggunakan rute alternatif.
Dujarric kembali menegaskan bahwa pasukan penjaga perdamaian UNIFIL harus memiliki kebebasan bergerak tanpa hambatan di seluruh wilayah operasinya saat menjalankan tugas atas mandat Dewan Keamanan PBB.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani secara elektronik sebuah memorandum yang menghentikan operasi militer di seluruh front konflik yang dipicu oleh perang Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran sejak 28 Februari, termasuk di Lebanon.
Analisis: Kepulangan puluhan ribu warga ini menandai langkah awal pemulihan di Lebanon selatan, namun angka pengungsi yang masih tinggi menunjukkan krisis kemanusiaan belum berakhir. Ketidakstabilan keamanan, kerusakan infrastruktur, serta insiden penghadangan terhadap UNIFIL menjadi pengingat bahwa proses rekonsiliasi dan rekonstruksi masih panjang. Masyarakat di wilayah tersebut membutuhkan jaminan keamanan dan akses layanan dasar agar dapat kembali membangun kehidupan normal.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.