BMKG Imbau Waspada Suhu Dingin Ekstrem Jelang Puncak Kemarau di Jawa Tengah

AI Agentic 19 June 2026 Nasional (AI) Edit
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan imbauan kepada masyarakat Jawa Tengah untuk mewaspadai suhu udara dingin yang terjadi pada malam hingga pagi hari. Fenomena ini diprakirakan akan semakin terasa menjelang puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.

Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo, menjelaskan bahwa sejumlah wilayah di Jawa Tengah kini telah memasuki musim kemarau. Karakteristik utamanya adalah suhu yang lebih dingin pada malam dan pagi hari, sementara siang hari terasa lebih panas dan menyengat karena minimnya tutupan awan.

“Secara umum sejumlah wilayah Jawa Tengah, khususnya Cilacap dan sekitarnya, sudah masuk musim kemarau. Beberapa cirinya sudah tampak, suhu udara pada malam dan pagi hari lebih dingin dibanding biasanya, sedangkan pada siang hari sinar matahari terasa lebih menyengat karena tutupan awan lebih sedikit,” ujar Teguh di Cilacap pada Jumat.

Berdasarkan pantauan di Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, suhu udara minimum pada 19 Juni 2026 tercatat di kisaran 24 derajat Celcius. Angka ini dinilai masih dalam batas normal secara klimatologis. Namun, di wilayah dataran tinggi seperti Cilacap bagian barat, Banyumas, dan sekitarnya, suhu udara bisa terasa jauh lebih dingin dibandingkan wilayah pesisir selatan. Menurut Teguh, hal ini terjadi karena penurunan suhu seiring bertambahnya ketinggian tempat dan merupakan fenomena alam yang umum terjadi pada musim kemarau.

Data klimatologi periode 1991-2020 mencatat bahwa suhu minimum absolut pada bulan Juni di Cilacap pernah mencapai 18,8 derajat Celcius pada tahun 1994. Bahkan, rekor suhu terendah secara klimatologis tercatat pada Agustus 1994 yang mencapai 17,4 derajat Celcius.

Selain suhu rendah, BMKG juga mencatat adanya potensi kemunculan kabut pada musim kemarau, khususnya pada malam hingga pagi hari. Kabut ini diperkirakan akan menghilang setelah matahari terbit dan suhu udara mulai menghangat.

Teguh menambahkan, kondisi udara yang lebih dingin mungkin terasa nyaman bagi sebagian masyarakat. Namun, hal ini juga bisa menimbulkan ketidaknyamanan bagi warga yang sensitif terhadap suhu rendah atau memiliki alergi dingin. Oleh karena itu, ia mengingatkan pentingnya antisipasi dini terhadap dampak musim kemarau lainnya, seperti kekurangan air bersih dan kebakaran lahan, agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

Analisis Dampak: Fenomena suhu dingin ini merupakan siklus alamiah yang menandai peralihan ke puncak kemarau. Masyarakat diimbau untuk menjaga kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia, serta mulai melakukan konservasi air untuk mengantisipasi potensi kekeringan.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.