Pecinan Glodok Makin Kinclong, Siap Bersaing dengan Petaling Street hingga Singapura
Kawasan wisata sejarah Pecinan Glodok di Tamansari, Jakarta Barat, terus berbenah. Pemerintah setempat bertekad memperkuat posisi kawasan ini sebagai salah satu destinasi unggulan di Ibu Kota melalui berbagai program penataan dan aktivasi.
Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainnah, menyatakan bahwa pihaknya telah menggelar festival kuliner malam yang melibatkan para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Selain menyajikan aneka makanan, acara ini juga dimeriahkan panggung hiburan bernuansa budaya lokal. Menurut Iin, seluruh kegiatan tersebut dirancang tanpa menghilangkan karakteristik asli Pecinan Glodok.
Ia menjelaskan bahwa kawasan ini sudah menjadi ikon wisata Jakarta. Oleh karena itu, pemerintah terus berupaya membuat tempat tersebut lebih nyaman bagi pengunjung. Pihaknya berkomitmen untuk menjaga kelestarian, mulai dari ornamen hingga ciri khas bangunan. Sebagai langkah awal, fokus penataan diarahkan pada evaluasi sistem parkir, keamanan, dan kebersihan melalui koordinasi lintas sektor serta melibatkan komunitas lokal.
Iin menegaskan bahwa aktivasi kawasan ini tidak hanya bertujuan memperpanjang jam operasional UMKM, tetapi juga menyediakan ruang interaksi sosial bagi masyarakat luas. Ia berharap warga dari seluruh DKI Jakarta bahkan luar ibu kota bisa hadir menikmati suasana sore atau akhir pekan di Glodok karena kulinernya yang melimpah dan tempatnya yang semakin nyaman.
Sementara itu, Kepala Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jakarta Barat, Sherly, menambahkan bahwa pembenahan Pecinan Glodok tidak berdiri sendiri. Kawasan ini tengah diintegrasikan dengan Kota Tua di bawah satu payung kawasan wisata. Sherly menekankan bahwa kawasan Kota Tua sebenarnya membentang tidak hanya di sekitar museum hingga Pelabuhan Sunda Kelapa, tetapi juga sampai ke Pancoran Glodok.
Integrasi fisik kedua kawasan ikonik ini akan semakin kuat berkat pembangunan proyek MRT Jakarta Fase 2. Sherly menjelaskan bahwa nantinya stasiun MRT akan menyambungkan langsung kawasan Pecinan dengan objek wisata Kota Tua. Rangkaian perjalanan wisatawan pun akan menyatu dari Glodok hingga ke Kota Tua.
Sherly juga menyoroti tingginya antusiasme masyarakat terhadap festival kuliner malam yang digelar. Hal ini menjadi modal penting untuk mendorong Pecinan Glodok sebagai destinasi wisata malam kelas dunia. Ia membandingkan potensi ini dengan kawasan pecinan ternama di luar negeri seperti Lau Pa Sat di Singapura atau Petaling Street di Kuala Lumpur, serta Pasar Semawis di Semarang.
Menurut Sherly, Jakarta memiliki potensi yang lebih keren karena di Glodok terdapat bangunan bersejarah berusia lebih dari 350 tahun. Potensi historis inilah yang akan terus didorong dan dikembangkan oleh pemerintah.
Dampak dari penataan ini bagi masyarakat sangat signifikan. Selain menciptakan lapangan usaha baru bagi UMKM melalui aktivasi ekonomi malam hari, integrasi dengan Kota Tua via MRT akan memudahkan akses wisatawan dan memperkuat identitas budaya Jakarta. Kawasan ini diharapkan tidak hanya menjadi tempat wisata, tetapi juga ruang publik yang nyaman untuk interaksi sosial dan rekreasi keluarga.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.