AirAsia Buka Suara soal Pembatalan Direct Flight Jakarta-Singapura dan Bangkok, Ternyata Ini Penyebabnya
Maskapai penerbangan AirAsia X akhirnya angkat bicara mengenai pembatalan rute penerbangan langsung atau direct flight dari Jakarta menuju Singapura dan Bangkok. Keputusan ini disebut sebagai bagian dari strategi besar perusahaan untuk mengoptimalkan jaringan penerbangan di tengah tekanan ekonomi global.
CEO AirAsia Group, Bo Lingam, dalam konferensi pers yang digelar secara hybrid pada Senin, mengungkapkan bahwa faktor utama di balik pembatalan kedua rute tersebut adalah optimasi jaringan. Menurutnya, perusahaan harus mengambil langkah efisien untuk menjaga keberlangsungan bisnis di tengah kondisi pasar yang tidak menentu.
Lingam menjelaskan bahwa permintaan atau demand pada sejumlah rute terdampak langsung oleh konflik geopolitik yang masih berlangsung. Selain itu, harga bahan bakar minyak yang sangat fluktuatif dan berpotensi naik akibat penutupan kembali Selat Hormuz menjadi beban tambahan bagi operasional maskapai.
Meski demikian, Lingam memberikan angin segar bagi calon penumpang. Ia memastikan bahwa seiring mulai pulihnya harga avtur dunia, rute-rute yang dibatalkan bisa diaktifkan kembali secara bertahap. Khusus untuk rute Jakarta-Bangkok, ia menyebut penerbangan langsung berpotensi kembali beroperasi dalam beberapa bulan ke depan.
Namun, cerita berbeda terjadi pada rute Jakarta-Singapura. Lingam secara blak-blakan menyebutkan bahwa biaya pajak bandara di Changi yang sangat mahal menjadi biang kerok pembatalan rute tersebut. Ia mengungkapkan, pajak bandara di Singapura mencapai 72 dolar Singapura per penumpang. Angka ini dinilai tidak masuk akal karena nilainya bahkan bisa lebih besar dari harga tiket pesawat itu sendiri.
Kami sudah berbicara dengan pihak Changi berkali-kali, ujar Lingam. Menurutnya, sangat tidak layak menetapkan tarif dari Jakarta ke Singapura jika ongkos pajak bandara justru lebih besar dari tarif penerbangan. Hal inilah yang menjadi alasan utama penghentian rute tersebut.
Di sisi lain, Lingam menegaskan bahwa kebijakan efisiensi ini tidak sepenuhnya berdampak pada rute domestik yang dijalankan AirAsia di Indonesia. Ia mengatakan, pengurangan rute hanya dilakukan jika harga bahan bakar terlalu tinggi sehingga tidak masuk akal untuk dioperasikan, atau jika rute tersebut sudah tidak menguntungkan bahkan sebelum konflik geopolitik terjadi.
Sebelumnya, calon penumpang dikejutkan dengan hilangnya opsi penerbangan langsung Jakarta-Singapura dan Jakarta-Bangkok dari sistem pemesanan AirAsia pada akhir pekan lalu. Saat ini, situs web resmi maskapai hanya menawarkan penerbangan transit dengan satu kali singgah di Kuala Lumpur, Malaysia, untuk kedua rute populer tersebut.
Keputusan ini tentu berdampak langsung pada masyarakat yang biasa menggunakan direct flight untuk perjalanan bisnis maupun wisata. Penumpang kini harus merogoh kocek lebih dalam dan menghabiskan waktu lebih lama karena harus transit. Ke depan, publik berharap agar maskapai dan pihak bandara dapat menemukan solusi agar rute-rute strategis seperti ini bisa kembali beroperasi secara langsung.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.