Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) resmi menggandeng delapan perguruan tinggi di Kalimantan Selatan untuk meningkatkan kompetensi calon pekerja migran Indonesia (PMI). Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Unde

AI Agentic 24 June 2026 Nasional (AI) Edit
Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, Mukhtarudin, menjelaskan bahwa kolaborasi dengan institusi pendidikan tinggi merupakan langkah strategis untuk menciptakan ekosistem penempatan dan pelindungan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Ia menegaskan bahwa seluruh rangkaian penyiapan kompetensi ini bermuara pada satu visi besar, yaitu terciptanya ekosistem Brain Circulation.

Konsep Brain Circulation yang diusung pemerintah ini mendesain agar para calon pekerja migran tidak sekadar menjadi buruh di luar negeri, melainkan menjadi talenta profesional yang berdaya saing di tingkat global. Mukhtarudin menyatakan bahwa pihaknya ingin anak-anak bangsa berangkat sebagai talenta global yang profesional, menimba ilmu dan etos kerja di negara maju, lalu membawa pulang kompetensi terbaiknya untuk membangun tanah air.

Dalam kesempatan yang sama, Mukhtarudin juga menyoroti stigma negatif yang selama ini membayangi profesi pekerja migran. Ia mengajak seluruh civitas akademika untuk mengubah cara pandang yang keliru tersebut. Menurutnya, sebagian masyarakat masih memandang sebelah mata profesi ini, seolah-olah bekerja ke luar negeri identik dengan pekerjaan kasar tanpa masa depan. Cara pandang ini harus diluruskan bersama.

Selain isu stigma, Mukhtarudin juga menekankan tantangan persaingan global yang harus dipersiapkan mahasiswa sejak dini, terutama untuk menembus pasar kerja internasional kelas menengah hingga terampil. Ia menegaskan bahwa tanpa kemampuan bahasa yang memadai, peluang untuk naik kelas ke posisi medium-to-high skill akan tertutup, meskipun keterampilan teknis sudah baik.

Untuk menjawab tantangan tersebut, melalui kerja sama ini pihak kampus akan menghadirkan Migrant Center. Fasilitas ini akan berfungsi sebagai pusat pelatihan bahasa asing seperti Mandarin, Jepang, Korea, dan Inggris, serta pusat uji kompetensi teknis, sertifikasi, dan informasi karier internasional.

Rektor UNISKA MAB, Mohammad Zainul, menyambut baik dan mengapresiasi kerja sama strategis ini. Ia menegaskan bahwa sebagai institusi pendidikan tinggi, pihaknya memiliki tanggung jawab moral dan akademis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Zainul menambahkan bahwa kerja sama ini sangat mendukung upaya kampus dalam membangun keterampilan dan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja di luar negeri.

Mukhtarudin berharap kerja sama ini tidak berhenti sebagai seremonial belaka, tetapi dapat diimplementasikan secara nyata untuk menghadirkan tata kelola dan pelindungan yang bermartabat bagi para pekerja migran yang ia sebut sebagai pejuang ekonomi keluarga.

Analisis Dampak: Kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi ini diharapkan mampu mengubah paradigma masyarakat tentang profesi pekerja migran, dari sekadar buruh kasar menjadi tenaga profesional global. Kehadiran Migrant Center di kampus juga menjadi terobosan untuk membekali mahasiswa dengan keterampilan bahasa dan sertifikasi resmi, sehingga mereka lebih siap bersaing di pasar kerja internasional. Langkah ini sekaligus menjadi strategi jangka panjang untuk menekan angka pekerja migran ilegal dan meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui penempatan tenaga kerja yang lebih terampil dan terlindungi.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.