Wamendagri Bima Arya Ungkap Tiga Modal Wajib Calon Pemimpin, Bukan Sekadar Populer
Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto memberikan wejangan keras kepada siapa pun yang bercita-cita menjadi pemimpin. Dalam sebuah acara di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Papua, Jayapura, ia menegaskan bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya bermodal popularitas.
Bima Arya menyebutkan tiga fondasi utama yang harus dimiliki setiap calon pemimpin daerah maupun birokrat, yaitu ideologi, strategi, dan taktik. Menurutnya, ketiga aspek ini menjadi kunci agar seorang pemimpin mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai-nilai kebenaran dan kepentingan masyarakat, bukan sekadar kepentingan sesaat.
Ia mengingatkan bahwa posisi strategis adalah amanah yang harus dipegang teguh. Tanpa nilai dan pegangan yang kuat, seorang pemimpin akan mudah tergoda oleh kepentingan transaksional. "Bagi kalian yang hari ini punya bayangan dan cita-cita memiliki posisi strategis entah apa pun itu, harus punya nilai dan pegangan agar tidak mudah dibeli oleh kepentingan transaksional," kata Bima dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ideologi berfungsi sebagai kompas arah kebijakan. Namun, nilai-nilai tersebut harus diterjemahkan ke dalam strategi yang tepat agar bisa menjadi program yang manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat. Salah satu pendekatan yang ia terapkan saat memimpin adalah konsep mencicil harapan, yakni menghadirkan perubahan secara bertahap namun konsisten.
Strategi tersebut terbukti berhasil. Bima mencontohkan capaian saat dirinya menjabat sebagai Wali Kota Bogor. Pendapatan Asli Daerah (PAD) kota tersebut melonjak dari Rp544 miliar pada 2014 menjadi Rp1,458 triliun pada 2024, atau naik 167,9 persen. Selain itu, berbagai program pembangunan berhasil direalisasikan, seperti revitalisasi taman kota seluas 15 hektare dan pembangunan jalur pejalan kaki sepanjang 30 kilometer.
Bima juga menekankan pentingnya taktik dan kemampuan eksekusi di lapangan. Menurutnya, pemimpin tidak boleh hanya pandai teori di belakang meja, melainkan harus turun langsung memahami persoalan masyarakat. "Pemimpin itu harus terampil untuk lapangan, makanya pesan saya adalah masalah itu di lapangan bukan di belakang meja," tegasnya.
Ia pun mengingatkan bahwa kesempatan memimpin adalah amanah berharga yang tidak berlangsung selamanya. Oleh karena itu, setiap calon pemimpin harus mempersiapkan diri sejak dini. "Ketika kalian ada di satu posisi, maka manfaatkanlah waktu yang sangat berharga itu untuk membuat kehidupan lebih baik," pesan Bima.
Analisis: Pernyataan ini menjadi pengingat penting di tengah hiruk-pikuk politik menjelang pemilihan daerah. Masyarakat diharapkan tidak hanya tergiur dengan janji manis atau popularitas calon, tetapi juga menilai apakah mereka memiliki fondasi ideologi yang jelas, strategi pembangunan yang realistis, serta kemampuan taktis untuk menyelesaikan masalah di lapangan.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.