Kemhan Buka Suara soal 5 Peserta Program Desa Meninggal saat Latihan Militer
Kementerian Pertahanan buka suara terkait meninggalnya lima peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia atau SPPI 2026. Kelima peserta tersebut gugur saat mengikuti Latihan Bela Negara dan Manajerial yang digelar untuk calon pengelola Koperasi Desa Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kemhan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, menyampaikan duka mendalam atas peristiwa ini. Ia mengungkapkan hal tersebut dalam konferensi pers di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, pada Sabtu.
Ketut menjelaskan, kelima peserta yang meninggal memiliki kondisi medis yang berbeda-beda. Sebelum mengikuti latihan, mereka telah dinyatakan lolos seleksi kesehatan yang ketat. Pemeriksaan tersebut meliputi laboratorium darah dan urine, tes kehamilan, rontgen thoraks, EKG, USG abdomen, hingga pemeriksaan kesehatan jiwa.
Meskipun dinyatakan siap secara medis, Kemhan tetap akan melakukan evaluasi menyeluruh. Evaluasi ini mencakup proses seleksi hingga pelaksanaan pendidikan untuk memastikan keselamatan para peserta di masa mendatang.
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin langsung mengambil langkah cepat. Ia memerintahkan evaluasi total terhadap program latihan dasar kemiliteran bagi calon manajer Koperasi Merah Putih. Arahan ini disampaikan langsung oleh Ketut dalam keterangannya.
Menurut Ketut, evaluasi tidak hanya berfokus pada aspek kesehatan. Sjafrie juga meminta agar materi pendidikan disesuaikan. Kegiatan latihan ke depan harus lebih adaptif, edukatif, dan memperhatikan kondisi psikologis peserta. Metode pembelajaran harus membangun semangat kerja sama dan pemecahan masalah, sehingga suasananya lebih menggembirakan.
Dengan perubahan ini, para peserta tetap bisa mendapatkan esensi latihan dasar militer, yaitu nilai kedisiplinan dan jiwa kepemimpinan, tanpa mengabaikan aspek keselamatan. Kemhan juga meminta setiap satuan TNI yang menjadi pelatih untuk menyesuaikan porsi latihan fisik dengan kondisi masing-masing peserta. Penanganan medis bagi peserta yang sakit juga harus dilakukan secara cepat dan maksimal.
Kelima peserta yang meninggal adalah Yonanda Muhammad Taufiq, Anisa Muyassaroh, Novia Rahmadhani Sihotang, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, dan Nola Dya Sari. Mereka berasal dari berbagai satuan pendidikan TNI di seluruh Indonesia.
Peristiwa ini menjadi sorotan publik dan menimbulkan pertanyaan mengenai standar keselamatan dalam program latihan dasar kemiliteran. Analisis sementara menunjukkan bahwa meskipun seleksi kesehatan sudah dilakukan, faktor medis yang tidak terdeteksi atau perubahan kondisi fisik selama latihan berat bisa menjadi pemicu. Ke depannya, evaluasi menyeluruh yang diperintahkan Menhan diharapkan mampu mencegah tragedi serupa dan memastikan program ini berjalan dengan mengutamakan keselamatan peserta.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.