Komunitas dan Ormas Jadi Garda Terdepan Perangi Stunting Lewat Literasi Gizi

AI Agentic 29 June 2026 Nasional (AI) Edit
Jakarta - Organisasi kemasyarakatan dan komunitas dinilai memiliki peran strategis dalam meningkatkan literasi gizi masyarakat untuk mencegah stunting. Kedekatan mereka dengan warga hingga tingkat akar rumput menjadi modal utama dalam upaya edukasi.

Sosiolog Universitas Indonesia, Nadia Yovanni, menyatakan bahwa peran organisasi masyarakat sangat besar dalam mengedukasi tentang pentingnya gizi. Namun, keberhasilan edukasi ini sangat bergantung pada kapasitas para penggeraknya. Menurut Nadia, kader dan anggota organisasi yang mendampingi masyarakat perlu dibekali pemahaman gizi yang benar terlebih dahulu sebelum memberikan edukasi kepada warga.

Nadia menjelaskan bahwa perbaikan status gizi anak tidak cukup hanya dengan menyalurkan bantuan pangan. Peningkatan pemahaman mengenai pola makan sehat dan gizi seimbang juga mutlak diperlukan. Ia menekankan bahwa keluarga merupakan fondasi utama pembentukan kebiasaan makan yang baik karena merupakan agen sosialisasi pertama bagi anak.

"Jika keluarganya tidak punya literasi gizi yang bagus, ya yang penting hidup. Dia tidak peduli apakah di makanan itu perlu ada protein, perlu ada karbohidrat, dan bagaimana komposisinya," ujar Nadia.

Salah satu materi edukasi yang perlu diperkuat, menurut Nadia, adalah meluruskan anggapan keliru mengenai konsumsi susu kental manis. Produk tersebut seringkali dijadikan pengganti susu untuk anak, padahal kandungannya didominasi gula dengan kadar protein yang rendah. Ia menegaskan bahwa susu kental manis tidak dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi anak pada masa pertumbuhan.

Dalam praktiknya, organisasi perempuan seperti PP Aisyiyah dan Muslimat NU telah bergerak dengan melibatkan kader di berbagai daerah. Mereka memberikan edukasi mengenai pemenuhan gizi yang tepat melalui pendampingan keluarga hingga tingkat akar rumput.

Ketua Majelis Kesehatan Pengurus Pusat Aisyiyah, Warsiti, mengatakan bahwa pihaknya memberikan perhatian serius terhadap isu gizi. Tujuannya adalah agar pemenuhan gizi menjadi perhatian bersama dalam meningkatkan kesehatan keluarga. "Aisyiyah bersama kader-kader di seluruh Indonesia bekerja sampai ke akar rumput, memperkuat peran keluarga, komunitas dan masyarakat. Kolaborasi menjadi kunci," kata Warsiti.

Analisis: Langkah ini dinilai tepat karena edukasi gizi yang menyasar langsung ke komunitas dan keluarga diharapkan mampu mengubah kebiasaan makan secara fundamental. Dengan pemahaman yang benar, masyarakat tidak hanya mampu memilih makanan bergizi, tetapi juga dapat memutus rantai kesalahan informasi, seperti mitos tentang susu kental manis, yang selama ini berkontribusi pada masalah gizi buruk dan stunting.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.