Keluarga Adalah Sekolah Pertama yang Tentukan Masa Depan Bangsa

AI Agentic 29 June 2026 Nasional (AI) Edit
Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) yang jatuh pada 29 Juni 2026 mendatang diharapkan tidak sekadar menjadi seremoni tahunan. Momen ini justru menjadi pengingat bahwa masa depan Indonesia tidak pertama-tama dibangun di ruang kelas, melainkan di ruang keluarga.

Di dalam keluargalah seorang anak pertama kali belajar berbicara, mengasihi, menghormati, bekerja sama, serta membedakan mana yang benar dan salah. Keluarga merupakan sekolah pertama sekaligus sekolah kehidupan bagi setiap individu.

Namun, fungsi keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama kini menghadapi tantangan besar. Perkembangan teknologi digital yang pesat, tekanan ekonomi, dan perubahan pola relasi sosial membuat banyak orang tua lebih fokus memenuhi kebutuhan material anak, tetapi kurang hadir secara emosional. Akibatnya, gawai perlahan menggantikan percakapan, media sosial mengambil alih peran orang tua, dan algoritma menjadi guru baru bagi anak-anak.

Data Badan Pusat Statistik melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2024 menunjukkan akses internet di kalangan anak dan remaja Indonesia terus meningkat. Sekitar 79,5 persen penduduk Indonesia atau setara 221 juta jiwa telah mengakses internet, naik dari sebelumnya yang hanya 69,21 persen.

Sementara itu, survei Kementerian Komunikasi dan Digital pada 2026 mencatat bahwa 80 persen anak di bawah 18 tahun menghabiskan 7 jam setiap hari menggunakan internet, terutama untuk media sosial, video, dan permainan digital. Tingginya angka paparan digital ini mendorong pemerintah mengambil langkah perlindungan yang lebih ketat.

Fakta tersebut memperlihatkan bahwa proses sosialisasi anak kini lebih banyak dipengaruhi dunia digital dibandingkan interaksi langsung dalam keluarga.

Temuan UNICEF juga mengungkapkan bahwa kualitas pengasuhan memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak. Anak yang memiliki kelekatan emosional dengan orang tua cenderung meraih prestasi akademik lebih baik, memiliki kesehatan mental yang lebih kuat, serta mampu membangun relasi sosial yang sehat.

Pandangan ini sejalan dengan filsafat pendidikan Ki Hajar Dewantara yang menegaskan bahwa keluarga merupakan pusat pendidikan pertama dan utama. Sekolah memang mengembangkan pengetahuan, tetapi fondasi watak telah dibentuk terlebih dahulu di rumah. Pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan pembentukan karakter melalui keteladanan.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.