Pakar Keamanan Siber Ingatkan Bahaya Manipulasi Psikologis di Dunia Kripto
Jakarta – Praktisi perdagangan aset kripto mengingatkan masyarakat untuk membiasakan diri melakukan verifikasi dan riset mandiri sebelum mengambil keputusan terkait aset digital. Ancaman keamanan saat ini tidak lagi hanya berasal dari peretasan sistem, melainkan juga dari manipulasi psikologis yang menargetkan pengguna.
Chief Information Security Officer (CISO) Indodax, Ledy, menjelaskan bahwa perkembangan teknologi keamanan telah mengubah pola ancaman di ekosistem aset kripto. Jika sebelumnya pelaku kejahatan lebih banyak berupaya mengeksploitasi kelemahan sistem, kini berbagai insiden terjadi justru karena pelaku menyasar aspek psikologis pengguna.
“Banyak orang masih menganggap ancaman terbesar berasal dari peretasan sistem pada exchange. Padahal, dalam beberapa kasus yang terjadi belakangan, pelaku justru memperoleh akses karena korban secara tidak sadar memberikan informasi penting atau mengklik tautan berbahaya yang menyerupai layanan resmi,” kata Ledy dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Ia menambahkan, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat berbagai modus penipuan tampil semakin meyakinkan. Selain deepfake dan voice cloning, pelaku kini juga memanfaatkan iklan palsu di media sosial seperti Facebook, manipulasi hasil pencarian (AI search engine repositioning), hingga penyamaran sebagai Customer Support (CS) resmi melalui aplikasi pesan instan seperti WhatsApp.
Oleh karena itu, Ledy menekankan pentingnya membangun kebiasaan keamanan siber atau cyber hygiene. Kebiasaan ini meliputi verifikasi informasi, menjaga kerahasiaan data pribadi, serta mengenali berbagai format manipulasi. Menurutnya, hal tersebut menjadi esensial dalam memperkuat perlindungan pengguna.
“Platform dapat menyediakan berbagai sistem lapisan keamanan. Namun pada akhirnya, setiap keputusan tetap berada di tangan pengguna. Karena itu, kami selalu mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah percaya dan selalu melakukan verifikasi sebelum memberikan informasi ataupun mengambil keputusan terkait aset digital,” ujarnya.
Ledy menilai peningkatan literasi keamanan digital perlu berjalan seiring dengan penguatan teknologi. Seiring berkembangnya berbagai modus penipuan berbasis AI, edukasi mengenai cara mengenali social engineering, phishing, deepfake, hingga penyalahgunaan identitas digital menjadi semakin penting untuk memperkuat perlindungan pengguna.
Analisis: Masyarakat perlu waspada karena modus penipuan kini tidak hanya mengandalkan serangan teknis, tetapi juga memanfaatkan psikologi korban. Dengan hadirnya AI, penipuan menjadi lebih sulit dikenali. Dampaknya, masyarakat bisa kehilangan aset digital secara tidak sadar hanya karena kurang teliti dalam memverifikasi informasi atau mengklik tautan mencurigakan.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.