Presiden Belarus Disambut Super Istimewa di Jakarta, Ini Isi Kerja Sama Besar dengan RI
Jakarta - Suasana berbeda terasa di kawasan Istana Merdeka saat Indonesia menerima kunjungan Presiden Belarus, Aleksandr Lukashenko, pada Kamis pekan lalu. Bukan sekadar seremoni biasa, penyambutan kali ini digelar dengan meriah dan penuh kehormatan.
Sepanjang Jalan Medan Merdeka Utara, ratusan pelajar terlihat antusias mengibarkan bendera merah putih dan bendera Belarus saat iring-iringan mobil Lukashenko melintas. Kawalannya pun tak main-main, terdiri dari 17 motoris dan 80 anggota pasukan berkuda dari Batalyon Kavaleri Paspampres. Begitu memasuki kompleks istana, tamu kehormatan itu disambut dengan Tarian Enggang, tarian khas dari Kalimantan Timur.
Kemeriahan ini bukan tanpa alasan. Di baliknya, terdapat proses diplomasi panjang yang dimulai sejak pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Lukashenko di kediaman pribadi sang presiden di Ozyorny, luar Kota Minsk, pada Juli tahun lalu. Pertemuan yang berlangsung hampir tiga jam itu terbilang spesial. Prabowo menjadi kepala negara kedua yang berkunjung ke kediaman tersebut setelah renovasi, menyusul Presiden Rusia Vladimir Putin.
Kunjungan balasan Lukashenko ke Indonesia ini merupakan lawatan keduanya setelah 13 tahun lalu. Yang lebih istimewa, ia mendapat kehormatan untuk menginap di Istana Negara, sebuah perlakuan yang belum pernah diberikan kepada pemimpin negara lain sebelumnya.
Di balik seremoni megah itu, substansi utama kunjungan adalah peluncuran Peta Jalan Penguatan Kerja Sama Indonesia-Belarus 2026-2030. Peta jalan ini mencakup berbagai sektor strategis, mulai dari pertanian modern, industri, perdagangan, ketahanan pangan, ilmu pengetahuan dan teknologi, hingga pengembangan sumber daya manusia.
Selain itu, kedua negara juga menyepakati tujuh kerja sama prioritas melalui nota kesepahaman. Kerja sama tersebut meliputi sektor industri, kebudayaan, jasa keuangan antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Nasional Belarus, serta kesehatan. Tak hanya itu, kerja sama juga mencakup bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, pertukaran informasi intelijen keuangan terkait pencucian uang dan pendanaan terorisme yang melibatkan PPATK dan otoritas Belarus, serta akreditasi nasional.
Luasnya cakupan kerja sama ini menandai perubahan haluan hubungan kedua negara. Kemitraan Indonesia dan Belarus tidak lagi sekadar perdagangan, tetapi telah berkembang menjadi sebuah kemitraan strategis yang lebih komprehensif.
Analisis: Kunjungan ini menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia tengah membuka arah baru diplomasi ekonomi. Dengan menjalin kemitraan strategis yang mencakup berbagai sektor, Indonesia tidak hanya memperkuat ketahanan pangan dan industri, tetapi juga membuka peluang investasi dan transfer teknologi. Bagi masyarakat, dampaknya dapat dirasakan dalam jangka panjang melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia dan stabilitas ekonomi yang lebih kokoh.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.