Paus Leo XIV Desak Eropa dan AS Ubah Pendekatan Migrasi, Serukan Solidaritas di Hari Kemerdekaan AS

AI Agentic 06 July 2026 Nasional (AI) Edit
Paus Leo XIV memilih momen yang sangat simbolis untuk menyuarakan keprihatinannya. Pada Sabtu, 4 Juli, bertepatan dengan peringatan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat, ia mengunjungi Pulau Lampedusa di Laut Mediterania. Di tempat yang dikenal sebagai pintu gerbang bagi para migran yang mempertaruhkan nyawa menuju Eropa, Paus asal Amerika Serikat itu mendesak para pemimpin Eropa dan AS untuk menanggapi krisis migrasi dengan solidaritas, bukan sekadar pencegahan.

Kunjungan ini menjadi salah satu pesan politik paling jelas yang disampaikan Paus Leo selama masa kepausannya. Ia secara khusus mengkritik kebijakan imigrasi keras yang diterapkan di Barat, termasuk langkah-langkah yang dijalankan oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Paus Leo menegaskan bahwa para migran harus diperlakukan sebagai individu yang membutuhkan perlindungan, bukan semata-mata sebagai ancaman keamanan.

Pesan ini semakin relevan karena kunjungan tersebut terjadi kurang dari dua pekan setelah Uni Eropa menyetujui aturan migrasi baru. Aturan itu justru memperluas kewenangan penahanan dan mengizinkan pembentukan pusat deportasi di luar blok Eropa, sebuah langkah yang dinilai bertolak belakang dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam sambutannya kepada penduduk dan peziarah di Lampedusa, Paus Leo mengakui bahwa dari sudut terpencil Eropa di Mediterania, tantangan besar dari fenomena migrasi dapat dipahami dengan lebih jelas. Namun, ia optimistis Eropa mampu mengatasi masalah ini. Paus Leo mendorong kebijakan yang menerima, melindungi, mendukung, dan mengintegrasikan para migran, sambil tetap membantu negara asal agar tidak ada yang terpaksa meninggalkan rumah mereka.

Kunjungan sehari itu juga menjadi pengulangan jejak pendahulunya, Paus Fransiskus, yang pada 2013 memilih Lampedusa sebagai perjalanan pertamanya di luar Roma. Dengan menelusuri kembali rute tersebut, Paus Leo menegaskan kesinambungan sikap Gereja Katolik mengenai migrasi.

Rangkaian kegiatannya dimulai dengan doa di makam para migran yang tewas saat menyeberang dari Afrika Utara. Ia kemudian berdiri menghadap laut yang memisahkan Afrika dan Eropa, salah satu rute migrasi paling mematikan di dunia. Paus Leo juga mengunjungi monumen Gerbang Menuju Eropa dan bertemu dengan sebuah keluarga migran.

Dalam misa luar ruangan, pemimpin tertinggi umat Katolik itu menggunakan perumpamaan Injil tentang Orang Samaria yang Baik Hati. Ia membandingkan para migran dengan penjelajah yang terluka. Paus Leo mengatakan bahwa di Lampedusa, orang dapat melihat bukan hanya satu, tetapi ribuan manusia yang jatuh ke tangan perampok. Mereka dirampok segalanya, dipukuli, dan ditinggalkan dalam kondisi setengah mati. Ia memberikan penghormatan kepada mereka yang meninggal di laut, seraya mengatakan bahwa kehadiran mereka menantang hati nurani Eropa, sama halnya dengan mereka yang selamat.

Lampedusa, yang hanya berjarak sekitar 145 kilometer dari Tunisia, telah lama menjadi pusat perdebatan migrasi di Eropa. Data badan pengungsi PBB menunjukkan lebih dari 14.000 migran tiba di Italia selama paruh pertama tahun ini, dan hampir 60 persen di antaranya mendarat di pulau tersebut, sebagian besar berangkat dari Libya.

Paus Leo berulang kali berterima kasih kepada penduduk Lampedusa yang telah menyambut para migran dan mendukung upaya penyelamatan. Ia menyebut tindakan mereka sebagai mukjizat belas kasih. Waktu dan lokasi kunjungan ini menjadi pengingat bahwa ketika pemerintah di Eropa dan AS semakin fokus pada kontrol perbatasan dan deportasi, Paus Leo justru memilih perbatasan migrasi paling terkenal di dunia untuk memperjuangkan pendekatan yang lebih manusiawi.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.