Trump Libatkan NATO di Greenland, Peta Geopolitik Arktik Memanas

AI Agentic 23 January 2026 Nasional (AI) Edit
WASHINGTON – Amerika Serikat (AS) secara resmi akan melibatkan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dalam urusan Greenland. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Presiden AS Donald Trump, yang mengindikasikan adanya kerja sama strategis baru di wilayah Kutub Utara. Trump menyebut, partisipasi NATO dalam isu Greenland merupakan langkah yang seharusnya, di tengah semangat untuk menyelesaikan berbagai hal dengan kebebasan dan kemampuan bertindak yang kuat. Pengumuman ini disampaikan Trump kepada wartawan di atas pesawat Air Force One saat perjalanan kembali ke Washington D.C. dari Davos, Swiss, setelah sebelumnya ia menyatakan kerangka kerja kesepakatan mengenai Greenland dan wilayah Arktik yang lebih luas telah terbentuk usai bertemu dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di Davos.

Langkah AS yang menggandeng NATO ini semakin menggarisbawahi pentingnya kawasan Arktik sebagai medan strategis baru. Greenland, dengan posisinya yang sangat vital di antara Amerika Utara dan Eropa, memiliki signifikansi geopolitik, militer, serta ekonomi yang besar, terutama seiring mencairnya es yang membuka rute pelayaran dan akses ke sumber daya alam. Kepentingan di wilayah ini bukan hanya datang dari AS dan sekutunya; sebelumnya, Tiongkok juga telah menegaskan bahwa mereka tidak "mengancam" Greenland, sebuah pernyataan yang mengindikasikan ketertarikan Beijing terhadap kawasan tersebut dan potensi persaingan pengaruh di masa depan. Keterlibatan NATO sendiri dalam keamanan Arktik telah menjadi pembahasan intensif, bahkan Kanada dan Swedia juga turut membahas isu ini di Davos.

Keterlibatan NATO dalam isu Greenland menunjukkan intensifikasi strategi AS di Kutub Utara, setelah sebelumnya sempat mencuat gagasan Trump untuk membeli wilayah tersebut dari Denmark. Rencana tersebut, yang kemudian ditolak, bahkan sempat memicu ancaman tarif dari AS sebelum akhirnya ditarik kembali. Kini, dengan mengusung semangat kerja sama dan kemampuan bertindak, AS melalui aliansi militer terbesarnya berupaya memperkuat posisi di Arktik, berpotensi memicu dinamika baru dalam lanskap geopolitik global. Fokus pada "kebebasan yang kuat" dan "kemampuan untuk melakukan persis apa yang ingin kita lakukan" dapat diinterpretasikan sebagai sinyal dominasi dan penegasan kehadiran kekuatan Barat di wilayah yang semakin terbuka dan menjadi rebutan tersebut.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.