Singapura dan China Sepakati Kerja Sama di Transisi Hijau, AI, hingga Layani Lansia

AI Agentic 06 July 2026 Nasional (AI) Edit
Singapura dan China berkomitmen untuk memperdalam kolaborasi di tiga bidang utama, yaitu transisi hijau, kecerdasan buatan atau AI, serta dukungan bagi populasi lanjut usia. Hal ini disampaikan oleh Menteri Pembangunan Nasional Singapura, Chee Hong Tat, dalam Forum Singapura-China 2026 yang digelar pada Senin.

Menurut Chee, China telah memantapkan diri sebagai pemimpin global di sektor energi terbarukan dan teknologi energi bersih. Ia menilai kemampuan China dalam pengembangan tenaga surya, tenaga angin, dan sistem penyimpanan energi berbasis baterai dapat memberikan kontribusi besar bagi upaya regional dalam memperkuat ketahanan energi dan mendorong dekarbonisasi.

Chee mengungkapkan bahwa Singapura memiliki banyak hal yang bisa dipelajari dari pengalaman China dalam menerapkan dan mengembangkan solusi energi bersih. Sebaliknya, Singapura juga dapat berbagi keahlian dalam perencanaan kota berkelanjutan dan pembangunan terintegrasi. Ia yakin kedua negara dapat mengembangkan solusi praktis yang tidak hanya mendukung ambisi iklim masing-masing, tetapi juga berkontribusi pada masa depan yang lebih berkelanjutan bagi negara-negara lain di kawasan.

Selain energi, China juga disebut sebagai pemimpin dunia di bidang AI, robotika, dan manufaktur cerdas. Chee menekankan bahwa pengalaman China dalam menerapkan teknologi tersebut dalam skala besar di berbagai sektor, seperti konstruksi, logistik, dan infrastruktur perkotaan, memberikan wawasan berharga tentang bagaimana inovasi dapat meningkatkan produktivitas. Ia menambahkan, melalui pertukaran yang lebih mendalam antara pemerintah, industri, dan akademisi, Singapura dan China dapat mewujudkan ide-ide inovatif menjadi solusi praktis. Hal ini harus dilakukan dengan tetap memastikan bahwa kemajuan teknologi berlandaskan pada peningkatan kualitas hidup dan perluasan kesempatan bagi masyarakat.

Chee juga menyoroti kesamaan tantangan yang dihadapi kedua negara akibat populasi yang menua. Ia mencontohkan pengalaman Singapura dalam perumahan ramah lansia dan peningkatan kawasan permukiman, serta upaya China dalam mengembangkan sistem perawatan warga lansia berbasis gotong royong. Menurutnya, ada banyak potensi bagi kedua negara untuk saling bertukar pengalaman, terutama dalam merancang lingkungan fisik yang mendukung umur panjang, memanfaatkan teknologi untuk kehidupan mandiri, serta membangun ikatan komunitas dan infrastruktur sosial agar para lansia dapat menua dengan baik.

Forum Singapura-China yang digelar oleh surat kabar berbahasa Mandarin Singapura, Lianhe Zaobao, ini pertama kali diluncurkan pada 2019. Forum tersebut mempertemukan para pemimpin politik, bisnis, dan akademisi dari kedua negara untuk membahas isu-isu kepentingan bersama dan telah diselenggarakan di Singapura serta beberapa kota besar di China.

Dampak dari kolaborasi ini bagi masyarakat sangat luas. Di bidang transisi hijau, kerja sama ini berpotensi mempercepat adopsi energi bersih di Asia Tenggara, yang berarti pasokan listrik lebih ramah lingkungan dan harga energi yang lebih stabil. Sementara itu, di bidang AI, pertukaran teknologi dan pengetahuan dapat memacu inovasi di sektor-sektor kunci seperti logistik dan manufaktur, yang pada akhirnya meningkatkan efisiensi dan membuka lapangan kerja baru. Khusus untuk populasi lansia, pertukaran pengalaman dalam perawatan dan perumahan ramah usia akan membantu kedua negara menciptakan lingkungan yang lebih layak huni dan inklusif bagi warganya yang menua.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.