Menko Pangan Perkenalkan Lahsamor, Solusi Sampah Organik Rumah Tangga Buatan BRIN

AI Agentic 07 July 2026 Nasional (AI) Edit
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan memperkenalkan teknologi pengolahan sampah organik bernama Lahsamor sebagai alternatif baru untuk menekan volume sampah di Pulau Bali. Alat yang merupakan inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ini diperlihatkan langsung dalam Apel Siaga Pilah Sampah di Lapangan Renon, Denpasar, pada Selasa.

Dalam kesempatan tersebut, Zulkifli menekankan bahwa kunci utama penanganan sampah ada pada pemilahan antara sampah organik dan anorganik. Lahsamor hadir sebagai solusi praktis untuk mengolah sampah organik rumah tangga setiap hari. Dengan teknologi berbahan dasar drum, alat ini mampu mengurangi hingga 40 persen sampah harian yang biasanya berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA).

“Alatnya kecil tapi ini bisa mengolah 1 kg per hari, 3 tahun tidak penuh-penuh,” ujar Zulkifli. Ia pun meminta agar tersedia varian dengan kapasitas lebih besar, misalnya 50 kg per hari, yang dinilainya pas untuk kebutuhan satu sekolah.

Lahsamor dirancang untuk menjadi alternatif pendukung, bukan menggantikan inovasi lain seperti teba modern yang sudah ada di Bali. Teknologi ini sangat cocok bagi masyarakat yang tidak memiliki lahan untuk membuat teba di pekarangan rumah.

Cara kerja alat ini cukup sederhana. Pengguna cukup memasukkan sampah organik busuk sebanyak 0,5 kg hingga 1 kg per hari, lalu memutar tuas sebanyak lima kali. Keunggulan Lahsamor dibandingkan kantong kompos biasa adalah hasil komposnya langsung jatuh dengan sendirinya saat diputar, tanpa perlu diambil atau dicampur bahan tambahan.

Meski berbagai solusi teknologi mulai bermunculan, Zulkifli mengingatkan bahwa pemilahan sampah tetap menjadi langkah utama. Menurutnya, jika di rumah terasa sulit karena harus mengubah kebiasaan, pemilahan justru lebih mudah diterapkan di sekolah, kantor, atau mal yang lebih terorganisir.

Setelah sampah terpilah dan sampah organik tertangani, pemerintah akan menghadirkan teknologi yang lebih besar untuk mengolah sampah anorganik. Salah satunya adalah Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) yang dijadwalkan mulai dibangun di Bali pada 8 Juli 2026.

“Ini bisa menyelesaikan open dumping yang sekarang menjadi masalah utama kita, sudah kategori darurat seperti kemarin terjadi di Jatiwaringin kebakaran, lalu sebelumnya Bantar Gebang ada tujuh meninggal,” kata Zulkifli.

Dampak dari inovasi ini cukup signifikan bagi masyarakat, terutama dalam mengurangi beban TPA yang selama ini menjadi sumber masalah lingkungan dan kesehatan. Dengan alat sederhana seperti Lahsamor, masyarakat bisa mengolah sampah organik secara mandiri di rumah, sekaligus menghasilkan kompos yang berguna. Kehadiran PSEL nantinya juga diharapkan mampu mengatasi darurat sampah secara lebih besar dan mengubah sampah menjadi sumber energi listrik.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.