Kotawaringin Timur Siaga Darurat Karhutla: Puluhan Hotspot Memicu Kekhawatiran, Ancaman Kabut Asap Mengintai!
Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, secara resmi mengaktifkan status siaga darurat bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) selama satu bulan penuh. Kebijakan ini berlaku mulai 23 Januari hingga 21 Februari 2026 sebagai respons atas maraknya kejadian kebakaran lahan dan peningkatan signifikan titik panas di wilayah tersebut. Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Kotim, Umar Kaderi, menjelaskan bahwa penetapan status ini merupakan hasil rapat koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), setelah melihat kondisi dan situasi terkini yang memerlukan langkah antisipasi serius.
Data menunjukkan, dalam rentang 1 hingga 21 Januari 2026, tercatat 61 titik panas (hotspot) di Kotim, mengindikasikan potensi kebakaran yang tinggi. Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, menambahkan bahwa pihaknya menerima setidaknya delapan laporan karhutla dalam sepekan terakhir, menandakan bahwa wilayah perkotaan pun sudah sangat rentan terbakar. Lebih lanjut, Multazam menyoroti penurunan muka air tanah yang drastis mencapai minus 35-60 cm, bahkan terlihat jelas pada saluran lingkar (ring drain) Kota Sampit. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan sebab ring drain berfungsi sebagai penampung air vital bagi daerah rawa sekitar Kecamatan Baamang dan Mentawa Baru Ketapang. Penurunan muka air tanah drastis ini seringkali menjadi indikasi awal kekeringan yang memperparah risiko karhutla, tak hanya mengancam ekosistem gambut namun juga berpotensi menimbulkan kabut asap yang berdampak serius pada kesehatan masyarakat dan aktivitas ekonomi, sebuah isu yang kerap menjadi sorotan nasional setiap musim kemarau.
Meskipun BMKG memprediksi adanya potensi hujan pada akhir Januari, Multazam mengingatkan bahwa perkiraan ini hanya mencakup sekitar 30 persen wilayah Kotim. Potensi hujan di bagian utara tidak serta merta menjamin keamanan wilayah tengah atau selatan dari bahaya karhutla. Dengan posisi Kotim yang membujur dari selatan ke utara, dimungkinkan terjadinya dua musim secara bersamaan, sebuah fenomena yang pernah terjadi sebelumnya. Kondisi ini menuntut kesiapsiagaan ekstra dari seluruh pihak. Kendati ada potensi hujan, masyarakat diminta tetap waspada dan tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan yang dapat memperparah kondisi. Pihak berwenang dari berbagai daerah di Kalimantan Tengah pun kerap menekankan pentingnya peran aktif masyarakat dalam pencegahan, mengingat dampak karhutla tidak hanya bersifat lokal namun juga regional, bahkan lintas negara jika kabut asap meluas.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.