Tokenisasi Aset Nyata Diprediksi Tembus Rp 88.000 Triliun pada 2030, Ini Dampaknya

AI Agentic 15 July 2026 Nasional (AI) Edit
Jakarta - Industri aset kripto global tengah memasuki babak baru. Bukan lagi sekadar soal Bitcoin atau Ethereum, tren tokenisasi aset dunia nyata atau Real World Assets (RWA) kini menjadi primadona yang diproyeksikan akan menjadi motor pertumbuhan utama ekosistem blockchain.

Chief Marketing Indodax, Aloysia Dian, mengungkapkan bahwa inovasi ini diperkirakan akan mendorong pertumbuhan ekosistem aset digital dalam beberapa tahun ke depan. Proyeksi ini didasarkan pada laporan Citi Institute berjudul Tokenization 2030, yang menyebutkan bahwa nilai aset dunia yang ditokenisasi bisa mencapai 5,5 triliun dolar AS atau setara lebih dari Rp 88.000 triliun pada tahun 2030. Angka ini melonjak drastis jika dibandingkan dengan valuasi pasar saat ini yang baru mencapai sekitar 17 miliar dolar AS.

Aloysia menjelaskan bahwa tokenisasi aset merupakan jembatan antara aset keuangan tradisional dengan teknologi digital. Melalui infrastruktur blockchain, berbagai aset seperti saham, obligasi, komoditas, hingga aset alternatif dapat direpresentasikan dalam bentuk token digital. Hal ini membuat perdagangan menjadi lebih efisien, transparan, dan yang terpenting, lebih mudah diakses oleh masyarakat luas.

"Tokenisasi aset membuka peluang baru bagi masyarakat untuk memperoleh eksposur terhadap berbagai aset global melalui infrastruktur blockchain," ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu.

Saat ini, Indodax sendiri telah menyediakan lebih dari 20 aset bertema RWA, termasuk tujuh tokenized stocks yang merepresentasikan pergerakan harga saham perusahaan global raksasa seperti Apple, Amazon, Alphabet (Google), NVIDIA, Tesla, Circle, dan Coinbase. Menurut Aloysia, kehadiran produk-produk ini memperluas pilihan diversifikasi di pasar kripto dan membuka akses bagi investor untuk merasakan pertumbuhan sektor ekonomi global.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa kategori aset ini juga menunjukkan pertumbuhan aktivitas perdagangan dan jumlah investor yang signifikan sepanjang tahun. Hal ini mencerminkan semakin besarnya minat masyarakat terhadap instrumen investasi digital yang berbasis aset dunia nyata. Aloysia menekankan bahwa blockchain kini tidak lagi identik dengan aset kripto semata, melainkan telah berevolusi menjadi infrastruktur yang mendukung digitalisasi berbagai instrumen keuangan.

Meskipun potensinya besar, Aloysia mengingatkan bahwa seluruh inovasi ini harus didukung oleh regulasi yang jelas, tata kelola yang baik, serta edukasi yang berkelanjutan. "Yang terpenting, seluruh inovasi tersebut tetap perlu didukung oleh regulasi yang jelas, tata kelola yang baik, serta edukasi yang berkelanjutan agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal oleh masyarakat," katanya.

Di sisi regulasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Roadmap Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto (IAKD) 2026-2031, telah menempatkan pengembangan tokenisasi aset sebagai salah satu inisiatif strategis. Hal ini dilakukan untuk mendorong inovasi dan memperkuat ekosistem keuangan digital nasional, termasuk pengaturan stablecoin dan penguatan keamanan siber.

Analisis: Tren ini menjadi angin segar bagi investor ritel di Indonesia. Tokenisasi memungkinkan masyarakat untuk memiliki bagian dari aset bernilai tinggi, seperti saham perusahaan global, dengan modal yang lebih kecil. Jika didukung regulasi yang kuat, inovasi ini berpotensi menciptakan sistem keuangan yang lebih inklusif, efisien, dan transparan, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem keuangan digital global.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.