Pemprov Papua Ingin Dapur MBG Serap Hasil Petani dan Nelayan Lokal
Pemerintah Provinsi Papua mendorong pengembangan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG agar tidak sekadar menjadi fasilitas pendukung Program Makan Bergizi Gratis. Fasilitas ini diarahkan untuk terhubung dengan rantai pasok pangan lokal sehingga manfaat ekonominya bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Papua, Yohanes Walilo, menyampaikan hal tersebut di Jayapura, Jumat, usai meresmikan SPPG Kampung Harapan di Kabupaten Jayapura. Menurut dia, keberadaan SPPG membutuhkan pasokan bahan pangan secara rutin sekaligus tenaga kerja untuk mendukung pengolahan hingga distribusi makanan.
Walilo menilai kebutuhan pangan SPPG dapat menjadi peluang besar bagi pelaku usaha dan masyarakat lokal untuk terlibat dalam rantai pasok Program Makan Bergizi Gratis. Ia menjelaskan bahwa petani bisa mendapatkan pasar yang jelas, nelayan memiliki kepastian penyerapan hasil tangkapan, peternak berpeluang memasok telur maupun daging, sementara UMKM dapat terlibat dalam penyediaan berbagai kebutuhan pendukung.
Apabila seluruh kebutuhan tersebut dipenuhi dari produksi lokal, kata Walilo, manfaat ekonomi program MBG tidak hanya dirasakan oleh penerima makanan bergizi. Program ini juga dapat menciptakan perputaran ekonomi di tingkat produsen hingga tenaga kerja yang terlibat dalam rantai pasok.
Ia menambahkan, dengan pola tersebut, kehadiran SPPG berpotensi menciptakan perputaran ekonomi yang lebih panjang, mulai dari produsen hingga masyarakat yang bekerja di dalam rantai pasok. Karena itu, Pemprov Papua mendorong pembangunan SPPG tidak berhenti pada penyediaan bangunan dan dapur pelayanan.
Pengembangan fasilitas tersebut, menurut Walilo, perlu dibarengi dengan sistem rantai pasok pangan lokal yang terintegrasi. Sistem ini diharapkan dapat menghubungkan kebutuhan SPPG dengan potensi pertanian, perikanan, peternakan, dan UMKM di masing-masing daerah.
Langkah Pemprov Papua ini berpotensi memperkuat ekonomi kerakyatan di wilayah setempat. Jika rantai pasok lokal berjalan optimal, program MBG tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi anak, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi bagi petani, nelayan, peternak, dan pelaku UMKM di Papua.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.