HUT TNI Jadi Momentum Perkuat Perlindungan Warga Papua
Jakarta, Anggota Komisi I DPR RI Nurul Arifin menilai peringatan Hari Ulang Tahun Ke-81 TNI yang jatuh pada Senin ini harus menjadi momentum untuk memperkuat keamanan dan perlindungan masyarakat di Papua. Pernyataan tersebut disampaikan menyusul terjadinya kontak tembak antara prajurit TNI dan kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) dalam beberapa waktu terakhir.
Dalam keterangannya di Jakarta, Nurul menegaskan bahwa HUT TNI tahun ini menjadi pengingat penting bahwa kekuatan TNI tidak hanya diukur dari kemampuannya menghadapi ancaman, tetapi juga dari kemampuannya memberikan rasa aman kepada seluruh rakyat. Menurutnya, di Papua, keamanan dan pembangunan harus berjalan beriringan agar masyarakat dapat hidup dengan tenang sementara pembangunan terus berlangsung.
Nurul menyoroti bahwa situasi keamanan di Papua memerlukan penanganan yang profesional, terukur, dan tetap mengutamakan keselamatan masyarakat sipil. Ia menekankan bahwa penegakan hukum terhadap kelompok bersenjata harus dilakukan dengan tetap berpegang pada prinsip kemanusiaan. Politisi tersebut juga mengingatkan bahwa penanganan persoalan keamanan di Papua tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan keamanan semata.
Menurut Nurul, stabilitas di Papua perlu diikuti dengan pembangunan, pelayanan publik, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ia berharap terciptanya Papua yang aman sehingga masyarakat dapat menjalankan aktivitas sehari-hari, anak-anak bisa bersekolah, dan pembangunan dapat berjalan lancar. Karena itu, ia menegaskan bahwa pendekatan keamanan harus berjalan bersama pendekatan pembangunan dan kesejahteraan.
Nurul juga meminta agar TNI benar-benar menjaga kepercayaan masyarakat. Kehadiran TNI di tengah masyarakat, menurutnya, harus memberikan rasa perlindungan dengan semakin profesional, semakin dekat dengan rakyat, dan semakin mampu menghadapi berbagai tantangan pertahanan dan keamanan. Ia menekankan bahwa yang paling penting, kekuatan TNI pada akhirnya harus bermuara pada terciptanya rasa aman dan kesejahteraan masyarakat.
Sebelumnya, TNI dan kelompok bersenjata OPM terlibat kontak tembak di Distrik Aifat Selatan, Kabupaten Maybrat, pada Sabtu (3/10). Panglima Gabungan Wilayah Pertahanan III Letnan Jenderal TNI Lucky Avianto menyatakan bahwa dua pimpinan OPM tewas dalam kontak senjata tersebut. Kedua pimpinan OPM yang tewas adalah Komandan Komando Wilayah Pertahanan II TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya Arso Aisnak dan Komandan Batalyon TPNPB-OPM Karef Hamit Kodap IV Sorong Raya Yohanes KY.
Analisis singkat menunjukkan bahwa pernyataan Nurul Arifin mencerminkan harapan agar pendekatan keamanan di Papua tidak hanya bersifat represif, tetapi juga diimbangi dengan upaya pembangunan dan peningkatan kesejahteraan. Bagi masyarakat Papua, hal ini berarti perlunya jaminan keselamatan bagi warga sipil agar aktivitas sehari-hari, pendidikan anak-anak, dan pembangunan daerah tetap berjalan tanpa terganggu konflik bersenjata. Dampak yang diharapkan adalah terciptanya stabilitas yang berkelanjutan, di mana kehadiran aparat keamanan dirasakan sebagai pelindung, bukan sebagai sumber ketegangan baru bagi masyarakat.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.