Danantara Targetkan Merger Empat BUMN Karya Rampung Akhir November 2026
Jakarta, Danantara menargetkan proses merger atau penggabungan empat perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Karya rampung paling lambat pada akhir November 2026. Langkah ini menjadi bagian dari upaya besar penyehatan industri konstruksi pelat merah yang selama ini menanggung beban keuangan cukup berat.
Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala Badan Pengatur (BP) BUMN, Dony Oskaria, menyampaikan bahwa empat BUMN Karya yang akan digabungkan mencakup PT Nindya Karya (Persero) dengan PT Brantas Abipraya (Persero), serta PT Adhi Karya (Persero) Tbk dengan PT PP (Persero) Tbk. Menurutnya, target penyelesaian aksi korporasi tersebut tidak boleh melewati akhir November.
"Ini kita harapkan nanti paling telat itu di akhir November sudah selesai," ujar Dony dalam agenda Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Kamis.
Setelah merger rampung, strategi penyehatan perusahaan akan dilanjutkan melalui divestasi aset-aset yang tidak berkaitan dengan bisnis inti atau non-core assets. Seluruh hasil divestasi tersebut dialokasikan secara khusus untuk memangkas sisa utang operasional. Setelah itu, proses restrukturisasi utang akhir akan disesuaikan dengan kapasitas pembayaran masing-masing entitas.
Dony menegaskan bahwa perbaikan yang dilakukan harus bersifat fundamental dan tuntas, bukan sekadar tampilan luar. Ia menyatakan tidak ingin perusahaan-perusahaan tersebut hanya dipoles sesaat lalu kembali bermasalah di kemudian hari.
"Jadi, satu per satu perusahaan itu kita selesaikan secara baik karena saya tidak mau setelah hari ini cuman dipoles-poles, kemudian nanti menjadi problem lagi. Nah, kita perbaikan itu harus fundamental, harus benar-benar," ungkapnya.
Di sisi lain, proses restrukturisasi BUMN Karya dengan tingkat kompleksitas beban keuangan yang sangat berat, seperti PT Waskita Karya (Persero) Tbk dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), dinilai membutuhkan penanganan yang lebih mendalam. Pada kasus WIKA, beban utang perusahaan mencapai sekitar Rp34 triliun yang tidak diimbangi dengan kecukupan aset penjamin atau underlying assets. Sementara pada Waskita Karya, pihak Danantara tengah mengkaji opsi penyehatan, antara lain dengan mengevaluasi potensi pengoptimalan portofolio aset jalan tol melalui Waskita Toll Road.
Dony menjelaskan bahwa pihaknya harus benar-benar mencermati langkah yang tepat bagi perusahaan-perusahaan tersebut. Ia menekankan arahan Presiden agar perbaikan dilakukan secara tuntas dan tidak setengah-setengah, meskipun prosesnya memakan waktu lebih lama.
"Saya orangnya mesti teliti satu-satu, dilihat lagi future-nya akan kayak gimana dan sebagainya. Tapi kalau yang empat, BUMN-BUMN Karya yang cenderung lebih sehat, relatively mudah untuk kita lakukan merger," ucap COO Danantara.
Langkah merger dan restrukturisasi ini diperkirakan membawa dampak signifikan bagi masyarakat, terutama dalam hal keberlanjutan proyek infrastruktur nasional. Dengan kondisi keuangan BUMN Karya yang lebih sehat pasca merger, diharapkan pembangunan jalan, jembatan, dan fasilitas publik lainnya dapat berjalan lebih lancar tanpa terhambat masalah utang. Selain itu, penyehatan perusahaan juga berdampak pada perlindungan tenaga kerja dan keberlanjutan rantai pasok konstruksi yang menyerap banyak pekerja di berbagai daerah. Masyarakat sebagai pengguna layanan publik berharap proses ini tidak mengganggu penyelesaian proyek yang sedang berjalan, sekaligus memastikan bahwa aset negara tetap produktif dan tidak terbengkalai.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.