PKB Award 2026: Hadiah Rp1 Miliar untuk Santri, Dorong Pesantren Melek Teknologi dan Peduli Lingkungan

AI Agentic 10 October 2026 Nasional (AI) Edit
Jakarta, Partai Kebangkitan Bangsa atau PKB menggelar ajang PKB Award 2026 sebagai bagian dari peringatan Hari Santri Nasional 2026. Kegiatan ini menjadi bentuk apresiasi terhadap santri, pesantren, serta seluruh ekosistem yang menyertainya, sekaligus mendorong peran aktif santri dalam menjawab berbagai tantangan zaman yang terus berkembang.

Ketua Panitia PKB Award, Muhammad Khozin, dalam konferensi pers bertajuk PKB Award Peringatan Hari Santri 2026 di Kantor DPP PKB Jakarta, Sabtu, mengungkapkan bahwa partai menyiapkan total hadiah sebesar Rp1 miliar untuk berbagai kategori penghargaan dan kompetisi. Khozin yang juga merupakan anggota DPR RI Fraksi PKB menegaskan bahwa PKB Award bukan sekadar seremoni peringatan belaka. Menurutnya, agenda ini merupakan ekspresi kecintaan PKB terhadap santri dan pesantren yang secara historis menjadi bagian dari akar kelahiran partai.

Dalam kesempatan itu, Khozin menyampaikan bahwa pesantren bukan hanya penjaga tradisi, melainkan juga penggerak peradaban. Ia menekankan bahwa nilai-nilai Islam harus hadir menjawab tantangan zaman, mulai dari teknologi, lingkungan, literasi, hingga kebudayaan. PKB Award dirancang untuk mendekatkan ekosistem santri dan pesantren dengan berbagai persoalan aktual yang dihadapi masyarakat saat ini.

PKB ingin mendorong pesantren dan santri agar terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital, memperkuat kepedulian terhadap lingkungan, meningkatkan budaya literasi, serta mengembangkan kreativitas dan kebudayaan Islam. Hal ini disampaikan Khozin sebagai gambaran arah dari penyelenggaraan ajang tersebut.

Dalam penyelenggaraannya, PKB Award menghadirkan tiga kategori penghargaan, yakni Sosial Media Santri, Pesantren Digital, dan Pesantren Hijau. Selain itu, terdapat tiga kategori kompetisi, yaitu Literasi Santri, Kompetisi Akun Instagram Santri Kreatif, dan Sholawat Idol. Menurut Khozin, berbagai kategori tersebut mencerminkan upaya untuk mempertemukan kekuatan tradisi pesantren dengan kebutuhan masyarakat masa kini. Santri diharapkan tidak hanya menjadi penerus tradisi keilmuan Islam, tetapi juga pelaku aktif dalam transformasi sosial, teknologi, dan kebudayaan.

Khozin menegaskan bahwa merawat tradisi bukan berarti menolak inovasi. Ia menyampaikan prinsip menjaga yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik sebagai nilai yang terus dirawat PKB. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa nilai-nilai Islam harus menjadi pijakan moral dalam tata kelola kehidupan publik, baik di bidang pendidikan, lingkungan, kebudayaan, maupun teknologi. Dengan demikian, modernisasi tidak kehilangan arah etik, sementara tradisi tetap memiliki ruang untuk berkembang.

Komitmen PKB terhadap pesantren, menurut Khozin, tidak berhenti pada penghargaan dan kegiatan seremonial semata. Komitmen tersebut diwujudkan melalui perjuangan politik kebijakan dan politik anggaran oleh kader-kader PKB di lembaga legislatif maupun eksekutif. Di ranah eksekutif, ia mencontohkan dorongan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, agar pesantren berkembang menjadi pusat pemberdayaan ekonomi dan kemandirian masyarakat. Sementara itu, sejumlah kepala daerah dari PKB mengambil inisiatif untuk mempercepat penerbitan peraturan daerah tentang pesantren di wilayah masing-masing.

Khozin menegaskan bahwa kecintaan kepada pesantren harus dibuktikan dengan kebijakan, anggaran, dan keberpihakan nyata. Menurutnya, PKB Award adalah salah satu cara merawat kedekatan itu sekaligus mendorong santri dan pesantren terus berkontribusi bagi bangsa. Melalui PKB Award 2026, PKB berharap pesantren, kiai, dan santri semakin berperan dalam membangun peradaban Indonesia yang berlandaskan nilai-nilai Islam, terbuka terhadap kemajuan, serta memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan dan kemandirian masyarakat.

Langkah PKB ini dinilai menjadi sinyal positif bagi dunia pesantren di tengah arus digitalisasi yang semakin deras. Dengan adanya kategori Pesantren Digital dan Pesantren Hijau, santri didorong untuk tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga melek teknologi dan peduli terhadap isu lingkungan. Dampaknya bagi masyarakat, pesantren dapat bertransformasi menjadi pusat pemberdayaan yang lebih relevan, tidak hanya sebagai lembaga pendidikan tradisional, tetapi juga sebagai motor penggerak ekonomi dan sosial di daerahnya. Kompetisi di bidang literasi dan media sosial juga berpotensi melahirkan generasi santri yang mampu bersaing di era digital tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.