Musik Bukan Sekadar Hiburan, Psikolog Ungkap Perannya untuk Kesehatan Mental
Jakarta, Musik sering dianggap hanya sebagai hiburan semata. Namun, psikolog klinis dewasa lulusan Universitas Padjajaran, Larasati Margaretha Soetrisno, M.Psi., Psikolog, mengungkapkan bahwa musik memiliki peran jauh lebih dalam, yakni sebagai ruang untuk mengenali perasaan, mengekspresikan emosi, dan menjaga kesehatan mental.
Mengutip penelitian dari Chemnitz University of Technology di Jerman, Larasati menjelaskan bahwa peran pertama musik berkaitan dengan fungsi psikologis. Orang mendengarkan musik bukan hanya untuk bersenang-senang, tetapi juga untuk mengatur suasana hati, memahami diri sendiri, dan merasa terhubung dengan orang lain.
Menurut Larasati, tidak semua orang mampu mengenali dan menjelaskan emosi yang sedang dirasakannya. Ketika mendengar lagu tertentu, baik melalui lirik, nada, maupun instrumennya, seseorang bisa menemukan representasi dari apa yang sedang ia rasakan. Musik membantu seseorang menemukan bentuk dari perasaan yang sebelumnya sulit dijelaskan. Kemampuan mengenali emosi ini menjadi fondasi penting dalam menjaga kesehatan mental.
Peran berikutnya adalah musik sebagai sarana mengekspresikan emosi. Penelitian yang diterbitkan dalam Psychology of Music menunjukkan bahwa aktivitas bermusik, termasuk mendengarkan, memainkan, dan menciptakan musik, bermanfaat untuk membantu regulasi emosi. Mendengarkan musik dapat membuat seseorang merasa terwakili, sementara bernyanyi, memainkan alat musik, atau menulis lagu bisa menjadi bentuk ekspresi emosi dan pelepasan stres.
Sebagai contoh, musisi YE yang akan menggelar konser bertajuk YE Live in Jakarta di Gelora Bung Karno, Jakarta, pada 24 Oktober 2026. Melalui lagu seperti Ghost Town, YE mengangkat tema pergulatan emosional, kerentanan, dan keinginan untuk menemukan kebebasan. Sementara dalam Reborn, ia menceritakan pengalaman menghadapi masa sulit, menemukan kembali harapan, dan terus bergerak maju.
Lebih lanjut, Larasati menyebut bahwa sebuah lagu dapat membawa seseorang merasakan apa yang dialami orang lain. Dengan demikian, musik mampu menciptakan koneksi emosional dan membuat seseorang merasa lebih dipahami. Secara psikologis, manusia memang memiliki kebutuhan untuk didengarkan dan dipahami.
Larasati menilai musik juga dapat menjadi salah satu bentuk coping atau upaya untuk menghadapi tekanan dan situasi yang terasa berat. Namun, ia mengingatkan bahwa manfaat tersebut memiliki batas. Musik dapat menjadi bagian dari coping, tetapi sifatnya sementara. Musik bisa membantu seseorang bertahan pada saat itu, tetapi masalah yang mendasarinya belum tentu selesai. Jika memang membutuhkan bantuan profesional, tetap penting untuk mencarinya.
Terakhir, Larasati mengatakan musik juga bisa membantu seseorang mengenali waktu yang tepat untuk mencari dukungan profesional. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO memiliki empat tanda yang dikenal sebagai 4D, yaitu Distress atau tekanan emosi yang terasa berat dan berkepanjangan, Deviance atau pikiran dan perilaku yang berbeda dari norma yang berlaku, Dysfunction atau kondisi yang mulai mengganggu aktivitas dan peran sehari-hari, serta Danger atau munculnya pikiran dan perilaku yang berbahaya bagi diri sendiri dan lingkungan. Jika kondisi tersebut mulai mengganggu keseharian, konsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan mental dapat membantu seseorang mendapatkan dukungan yang sesuai.
Analisis singkat, peran musik sebagai alat bantu regulasi emosi membuka peluang bagi masyarakat untuk lebih sadar akan pentingnya kesehatan mental. Musik yang mudah diakses siapa saja dapat menjadi langkah awal yang ringan untuk mengenali dan mengelola emosi. Namun, masyarakat perlu memahami bahwa musik bukan solusi tunggal. Kesadaran untuk mencari bantuan profesional ketika masalah emosi sudah mengganggu kehidupan sehari-hari tetap menjadi kunci utama.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.