Tragedi Danjiri di Osaka: Dua Tewas dan 16 Terluka Saat Ritual Festival Berlangsung Meriah
Dua orang pria dilaporkan tewas dan sedikitnya 16 orang lainnya mengalami luka-luka dalam dua kecelakaan terpisah yang melibatkan kendaraan hias tradisional pada pergelaran festival di Prefektur Osaka, Jepang bagian barat, Sabtu lalu. Insiden nahas ini terjadi di tengah kemeriahan festival yang seharusnya menjadi ajang perayaan budaya masyarakat setempat.
Kecelakaan pertama terjadi di Kota Izumisano. Seorang pria berusia 51 tahun yang sedang menaiki kendaraan hias bersama peserta lain terjebak di bawah badan kereta setelah kendaraan tersebut terbalik. Korban kemudian dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit. Dalam insiden ini, tujuh orang lainnya turut mengalami luka-luka akibat kejadian tersebut.
Peristiwa serupa juga terjadi di Kota Izumiotsu. Sebuah kendaraan hias kembali terbalik dan menewaskan seorang pria berusia 48 tahun yang termasuk dalam rombongan penunggang yang terjebak di bawah kendaraan. Kepolisian Prefektur Osaka mencatat sembilan orang lainnya mengalami luka-luka dalam kecelakaan kedua ini.
Berdasarkan keterangan pihak kepolisian, kedua kecelakaan tersebut diduga kuat terjadi saat berlangsungnya ritual yarimawashi. Ritual ini merupakan salah satu momen puncak dalam festival tersebut, di mana tim peserta menarik kendaraan hias yang dikenal dengan nama danjiri untuk mengitari tikungan dengan kecepatan tinggi. Manuver berisiko tinggi ini seringkali membuat para penunggang kehilangan keseimbangan dan berujung pada kecelakaan.
Hingga saat ini, aparat kepolisian setempat masih melakukan penyelidikan mendalam untuk memastikan penyebab pasti dari kedua insiden tersebut. Pihak berwenang belum memberikan keterangan lebih lanjut mengenai apakah ada kelalaian prosedur keselamatan dalam pelaksanaan ritual tersebut.
Dampak dari kejadian ini menjadi perhatian serius bagi masyarakat Jepang, khususnya para penggiat festival tradisional. Tradisi danjiri memang dikenal memiliki risiko tinggi karena melibatkan atraksi fisik yang ekstrem dan mengandalkan kekompakan tim. Meski telah menjadi bagian dari warisan budaya selama berabad-abad, insiden ini memunculkan pertanyaan mengenai standar keselamatan yang diterapkan dalam pelaksanaan ritual berbahaya tersebut. Masyarakat berharap agar evaluasi menyeluruh dilakukan guna mencegah terulangnya tragedi serupa di masa mendatang tanpa harus menghilangkan esensi budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.