Munas Tarjih Muhammadiyah 2026 di Surabaya Bahas Fikih Lansia hingga Kedaulatan Pangan
Surabaya, Musyawarah Nasional XXXIII Tarjih Muhammadiyah akan digelar pada 5 hingga 7 November 2026 di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Jawa Timur. Forum tertinggi Majelis Tarjih dan Tajdid ini mengangkat tema Satu Abad Tarjih: Meneguhkan Akidah, Memperindah Akhlak, Menguatkan Ibadah, dan Memberdayakan Umat untuk Peradaban Berkemajuan, dan diikuti peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Ustadi Hamsah, menjelaskan bahwa munas kali ini membahas lima materi utama. Kelima materi tersebut meliputi Fikih Lanjut Usia, Fikih Kedaulatan Pangan, Risalah Akidah Islam Muhammadiyah, Risalah Akhlak Islam Praktis, serta pengembangan Himpunan Putusan Tarjih termasuk pembahasan hukum taswib.
Fikih Lanjut Usia membahas tuntunan Islam terkait pelayanan, perlindungan, dan ibadah bagi kelompok lanjut usia. Sementara Fikih Kedaulatan Pangan berfokus pada kemandirian pangan, keadilan akses, kesejahteraan petani dan nelayan, pemanfaatan teknologi, serta perlindungan kelompok rentan. Kedua tema ini dinilai sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini, terutama di tengah meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia dan tantangan ketahanan pangan nasional.
Selain persidangan, panitia juga menggelar dua seminar nasional. Seminar pertama membahas kedaulatan pangan berbasis nilai Islam, sedangkan seminar kedua mengangkat tema Manhaj Tarjih dan Ijtihad Muhammadiyah, dari warisan KH Mas Mansur hingga persoalan kebangsaan masa kini.
Ustadi menambahkan bahwa rangkaian kegiatan juga akan diisi dengan Muhammadiyah Heritage Walk, yakni penelusuran jejak sejarah KH Mas Mansur di Surabaya, termasuk kunjungan ke tempat-tempat yang berkaitan dengan kehidupan dan perjuangan beliau, serta ziarah ke makam beliau. Ia berharap munas tidak hanya menghasilkan keputusan keagamaan, tetapi juga memperkuat peran Majelis Tarjih dalam mengembangkan pemikiran Islam yang responsif terhadap ilmu pengetahuan dan persoalan kemanusiaan.
Sementara itu, Rektor Umsura Prof Mundakir menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada kampusnya sebagai tuan rumah kegiatan tersebut. Ia menyatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan berbagai kebutuhan penyelenggaraan dengan sebaik-baiknya untuk menyambut seluruh peserta dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari fasilitas persidangan, layanan peserta, dukungan teknologi informasi, hingga publikasi. Menurut dia, Munas Tarjih menjadi forum penting untuk mempertemukan pemikiran keislaman, tradisi keilmuan, perkembangan ilmu pengetahuan, dan kebutuhan masyarakat. Ia berharap kegiatan ini tidak hanya memperkuat tradisi intelektual Muhammadiyah, tetapi juga menghasilkan gagasan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Bagi masyarakat luas, hasil munas ini berpotensi memengaruhi cara pandang dan pedoman beribadah warga Muhammadiyah, khususnya dalam memperlakukan kelompok lanjut usia dan mendorong kemandirian pangan. Pembahasan fikih kedaulatan pangan misalnya, dapat mendorong keterlibatan umat dalam mendukung petani dan nelayan lokal serta memperkuat ketahanan pangan berbasis komunitas. Sementara fikih lansia diharapkan menjadi rujukan dalam memberikan pelayanan dan perlindungan yang lebih baik bagi kelompok usia lanjut di lingkungan masyarakat.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.