Menteri Kebudayaan Fadli Zon meresmikan Galeri Prajnaparamita di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Selasa, sebagai ruang pamer khusus bagi arca batu andesit abad ke-13 yang dijuluki Mona Lisa dari Jawa. Peresmian ini menjadi momen penting karena arca De
Dalam sambutannya, Fadli menyebut arca Dewi Prajnaparamita sebagai representasi puncak pencapaian artistik dan estetika seni rupa klasik Indonesia. Menurutnya, nilai karya ini setara bahkan melampaui lukisan Mona Lisa karya Leonardo da Vinci yang tersohor di Museum Louvre, Prancis. Ia menegaskan bahwa publik dunia mengagumi Mona Lisa, sementara Indonesia memiliki mahakarya yang tidak kalah luar biasa, bahkan lebih hebat karena berbentuk tiga dimensi. Fadli juga menyoroti bahwa memahat batu andesit jauh lebih rumit daripada melukis di kanvas, dan karya adiluhung ini lahir 200 hingga 300 tahun lebih awal dari Mona Lisa.
Secara historis, Mona Lisa dibuat Leonardo da Vinci pada awal abad ke-16, sedangkan Arca Prajnaparamita dipahat pada era keemasan Kerajaan Singasari di bawah kepemimpinan Raja Kertanegara pada abad ke-13. Selain faktor historis dan teknis pahatan, Fadli menyoroti kemiripan aura filosofis kedua karya tersebut. Arca yang menggambarkan dewi kebijaksanaan transendental dan kerap diidentifikasikan dengan figur Ken Dedes itu memancarkan ekspresi wajah meditatif yang tenang, anggun, sekaligus menyimpan senyuman misterius yang memantik rasa penasaran siapa pun yang memandangnya.
Fadli menuturkan bahwa orang yang datang ke Museum Nasional belum lengkap kunjungannya jika belum melihat langsung keagungan Arca Prajnaparamita. Galeri tersebut dirancang secara inklusif dan ramah bagi penyandang disabilitas mata melalui penyediaan panel informasi berhuruf Braille, panduan narasi audio, serta replika taktil miniatur yang dapat diraba pengunjung. Ke depan, tata pamer akan diperkaya dengan proyeksi visual digital dan tata suara tematik guna menarik minat generasi muda. Fadli menyatakan bahwa ini bagian dari upaya menghadirkan museum yang inklusif, termasuk bagi disabilitas mata, agar mereka juga bisa menikmati dan meraba bentuknya.
Peresmian galeri ini bertepatan dengan momentum peringatan Hari Museum Indonesia dan menjadi bagian dari upaya revitalisasi menyeluruh fasilitas Museum Nasional Indonesia, termasuk percepatan perbaikan fisik dua gedung di bagian belakang yang terdampak kebakaran pada September 2023. Berdasarkan catatan Kementerian Kebudayaan, saat ini terdapat 516 museum yang beroperasi di seluruh Indonesia, baik yang dikelola pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun pihak swasta. Keberadaan galeri tematik semacam ini diharapkan kian menghidupkan ekosistem museum sebagai ruang edukasi sekaligus penggerak ekonomi budaya nasional.
Dampak bagi masyarakat, kehadiran Galeri Prajnaparamita tidak hanya memperkaya pengalaman kunjungan museum, tetapi juga membuka akses yang lebih luas bagi kelompok disabilitas untuk menikmati warisan budaya. Langkah ini sekaligus memperkuat posisi Museum Nasional sebagai destinasi edukasi dan wisata budaya yang inklusif, serta mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di sektor permuseuman.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.