Sekolah Internet Komunitas di Desa Toro, Sigi, Sulawesi Tengah, menjadi contoh nyata bagaimana literasi digital mampu mengubah kehidupan warga di pelosok. Berawal dari kegelisahan para pemuda setempat terhadap sulitnya akses internet, komunitas ini kini s

AI Agentic 15 October 2026 Nasional (AI) Edit
Desa Toro yang terletak di Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, dikenal memiliki pemandangan alam yang asri dengan hamparan sawah dan perbukitan. Namun, di balik keindahannya, warga desa ini sempat mengalami kesulitan besar dalam mengakses informasi dan pengetahuan dari dunia luar. Anak-anak sekolah, misalnya, harus menempuh perjalanan sekitar 85 kilometer menuju Kota Palu hanya untuk mengikuti ujian praktik yang membutuhkan komputer atau koneksi internet. Jalur yang dilalui pun tergolong ekstrem, penuh lubang, dan menembus lebatnya hutan.

Kondisi itulah yang menggerakkan hati Fitri, seorang perempuan berusia 27 tahun, bersama rekan-rekannya untuk mendirikan Sekolah Internet Komunitas pada 2024. Berkolaborasi dengan dua organisasi nirlaba, Roa Jaga Roa dan Common Room, mereka membangun komunitas ini dari nol. Pada awal pendiriannya, delapan pengurus dibekali pengetahuan dasar dan keterampilan teknis, seperti cara mengoperasikan internet hingga memasang kabel jaringan.

Fitri mengaku sempat tidak percaya diri karena pekerjaan teknis seperti memasang kabel internet kerap diidentikkan dengan kaum laki-laki. Namun, keraguan itu ia tepis demi satu cita-cita besar, yakni menjadikan Desa Toro sebagai percontohan desa digital di Kabupaten Sigi, bahkan Sulawesi Tengah. Semangat itu semakin kuat berkat rasa ibanya melihat anak-anak desa yang begitu kesulitan mengakses pengetahuan.

Perjalanan komunitas ini tidak selalu mulus. Fitri menceritakan bahwa edukasi penggunaan internet secara bijak awalnya hendak digelar di sekolah. Namun, saat itu dusun mereka mendapat giliran pemadaman listrik. Tak hilang akal, Fitri bersama rekannya mendatangi pengurus masjid untuk meminta izin memanfaatkan ruang dan fasilitas tempat ibadah. Berbekal sebuah laptop dan proyektor, mereka tetap membagikan pemahaman seputar dunia digital kepada anak-anak, mulai dari cara mengenali dan mencegah berita bohong atau hoax, panduan berinternet secara aman dan sehat, hingga potensi bahaya jika teknologi disalahgunakan.

Hingga kini, dampak positif Sekolah Internet Komunitas sangat terasa bagi warga Desa Toro. Ibu-ibu rumah tangga yang dulunya berjualan dari rumah ke rumah kini makin terampil menjajakan produk mereka melalui marketplace maupun media sosial. Di sektor pendidikan, anak-anak tak perlu lagi menempuh perjalanan jauh untuk mengikuti ujian karena sekolah mereka telah terhubung internet. Sektor pariwisata dan kebudayaan pun turut menggeliat, dengan warga leluasa mempromosikan kekayaan alam dan budaya Desa Toro ke mancanegara. Para petani juga mulai mahir mencari informasi tentang masa tanam yang tepat, pemilihan pupuk, hingga teknik pertanian modern. Bahkan, para montir bengkel di desa tersebut terkadang melihat tutorial cara memperbaiki sepeda motor melalui platform video.

Meski demikian, Fitri menyadari bahwa internet ibarat pisau bermata dua. Ia merasa bertanggung jawab untuk menjaga warga Desa Toro agar aman, terlindungi, dan tidak terjebak dampak negatif penyalahgunaan internet. Demi mencegah penipuan online, judi online, hingga maraknya konten tak sehat, Sekolah Internet Komunitas menjadikan edukasi internet sebagai agenda prioritas. Fitri mengungkapkan bahwa pada 2025 sejumlah warga sempat menelan kerugian hingga Rp1 miliar akibat penipuan online. Belajar dari kasus tersebut, ia dan para pengurus kian gencar memberikan literasi digital demi menekan munculnya korban baru. Hasilnya cukup menggembirakan, di beberapa dusun yang sudah didatangi, kini tidak ditemukan lagi korban penipuan online.

Kehadiran Sekolah Internet Komunitas pun disambut hangat oleh tenaga pendidik setempat. Nurlia, salah seorang guru di Madrasah Ibtidaiyah Swasta Alkhairaat Toro, mengaku sangat terbantu. Sebelum ada komunitas ini, para guru harus bepergian ke desa tetangga, bahkan ke Kota Palu, hanya untuk mendapatkan koneksi internet yang stabil. Menurut Nurlia, manfaat nyata yang dirasakan adalah kemudahan dalam menyusun bahan ajar serta memanfaatkan media pembelajaran berbasis digital bagi para siswa. Ia juga mengapresiasi ketulusan para pengurus yang tak kenal lelah mengedukasi anak-anak desa meski tanpa imbalan materi.

Nurlia menambahkan bahwa edukasi literasi digital berdampak besar bagi anak-anak. Mereka mulai memahami cara memanfaatkan internet secara bijak dan sudah bisa memilah mana informasi yang baik dan mana yang buruk. Meski demikian, pihak sekolah tetap melarang keras para siswa membawa gawai ke sekolah. Untuk kegiatan belajar tertentu, sekolah mengizinkan penggunaan gawai di bawah pengawasan ketat guru. Guna mengoptimalkan perlindungan anak, pihak sekolah juga mengedukasi orang tua untuk mengaktifkan fitur verifikasi dua langkah pada perangkat anak, serta mendorong pemanfaatan aplikasi pemantau agar aktivitas digital anak-anak dapat diawasi dari rumah.

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian, dan Statistik Sulawesi Tengah, Wahyu Agus Pratama, menilai Desa Toro sebagai salah satu contoh praktik baik penerapan desa digital di wilayahnya. Ia menjelaskan bahwa keberadaan Sekolah Internet Komunitas sejalan dengan program Berani Berdering, sebuah kebijakan pemerataan akses internet hingga ke pelosok daerah yang digagas pemerintah provinsi. Pada 2026, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah mengalokasikan anggaran sebesar Rp10,3 miliar untuk program tersebut, dengan target menjangkau 150 desa. Khusus Kabupaten Sigi dan Kabupaten Tojo Una-Una, masing-masing dialokasikan untuk 15 desa, sedangkan kabupaten lain masing-masing mendapat kuota 12 desa. Porsi lebih besar untuk Sigi dan Tojo Una-Una diberikan karena kedua daerah tersebut baru saja terlepas dari status kabupaten tertinggal.

Wahyu berharap program Sekolah Internet Komunitas di Desa Toro terus konsisten memajukan potensi desa, sekaligus berjalan selaras dengan program Berani Berdering. Kisah Desa Toro menjadi bukti bahwa keterbatasan akses bukanlah penghalang untuk maju, asalkan ada kemauan kuat dan kolaborasi dari berbagai pihak. Semangat para pemuda setempat telah mengubah keterisolasian menjadi peluang, membawa harapan baru bagi masyarakat pelosok untuk meraih masa depan yang lebih cerah di era digital.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.