Kisah Haru di Balik Diam dan Tangis Presiden Prabowo, dari Naila hingga Sekolah Berasrama
Jakarta, 17 Oktober 2026. Di tengah perayaan ulang tahunnya yang ke-75, Presiden Prabowo Subianto menyimpan banyak cerita yang jarang terungkap ke publik. Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisis Kebijakan, Dirgayuza Setiawan, membagikan kisah di balik sosok pemimpin yang dikenal tegas itu, terutama tentang bagaimana diam dan tangis Presiden menyimpan kepedulian mendalam terhadap rakyat kecil.
Dirgayuza mengungkapkan bahwa selama mengenal Prabowo sejak ulang tahunnya yang ke-55, ia belajar bahwa seseorang bisa dikenal dari caranya terdiam, dari wajah yang dipandangi lama, dari kisah yang membuat suaranya berubah, serta dari apa yang ia pikirkan dan perjuangkan. Hal itu pula yang ia tuangkan bersama Agung Gumilar Saputra dalam buku berjudul Inilah Prabowo, Apa Adanya yang terbit pada 2026, berisi kisah di balik layar pendampingan mereka terhadap Presiden.
Salah satu kisah yang paling membekas adalah tentang Naila, seorang anak kecil dari Palembang yang tinggal di gubuk pinggir sungai. Saat melihat foto Naila dalam paparan Menteri Sosial, Prabowo terdiam, lalu langsung memerintahkan agar dibangun sekolah berasrama untuk Naila. Wajah anak itu terus ia bawa ke setiap rapat, sebagai pengingat bagi semua orang tentang untuk siapa sekolah-sekolah itu dibangun.
Bertepatan dengan hari ulang tahun Presiden, sebanyak 182 Sekolah Rakyat di berbagai daerah serentak membuka pintunya untuk masyarakat melalui gelar griya. Langkah serupa juga dilakukan Sekolah Garuda dan Sekolah Garuda Transformasi. Ketiganya merupakan bagian dari program prioritas pemerintah di bidang pendidikan, khususnya penyediaan akses sekolah berasrama. Sekolah Rakyat diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga kategori Desil 1, sementara Sekolah Garuda difokuskan bagi anak-anak berprestasi.
Dirgayuza juga mencatat momen-momen ketika Presiden menitikkan air mata. Salah satunya saat seorang mahasiswi Universitas Pertahanan bercerita bahwa keluarganya dahulu tak berani bermimpi ia bisa menjadi dokter, hingga beasiswa membuka jalan bagi cita-citanya. Hati Prabowo tergerak ketika seseorang yang hampir kehilangan kesempatan akhirnya memperoleh jalan. Perhatian serupa juga ia tunjukkan saat memeriksa makanan prajurit atau mengirim tunjangan hari raya kepada mantan staf dan keluarga prajurit yang gugur, karena baginya orang yang pernah berjuang bersama tidak boleh dilupakan.
Alasan mendasar pengabdian Presiden pun terungkap. Prabowo bercerita bahwa ia telah 14 kali berpapasan dengan maut, dan memaknai keselamatan itu sebagai kesempatan dari Tuhan. Dari situlah ia merenungkan untuk apa sisa umurnya digunakan, hingga memilih mencurahkan seluruh hidupnya bagi rakyat, bangsa, dan negara.
Presiden Prabowo Subianto lahir di Jakarta pada 17 Oktober 1951 dari pasangan Soemitro Djojodikoro dan Dora Marie Sigar, dan merupakan anak ketiga. Ia mengabdikan hidupnya kepada bangsa dan negara sejak muda sebagai prajurit, kemudian melanjutkan pengabdian sebagai Presiden sejak dilantik pada 20 Oktober 2024 bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Rangkaian kisah ini menunjukkan sisi humanis seorang pemimpin yang kerap tampil tegas di depan publik. Bagi masyarakat, terutama keluarga prasejahtera dan anak-anak berprestasi, program sekolah berasrama menjadi bukti nyata bahwa kebijakan pendidikan tidak berhenti pada retorika, melainkan menyentuh langsung kehidupan mereka yang selama ini nyaris kehilangan kesempatan. Momentum ulang tahun Presiden pun dimaknai bukan sekadar seremoni, melainkan pengingat bahwa kepedulian terhadap rakyat kecil adalah fondasi dari setiap kebijakan yang diambil.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.