Museum NTB Jemput Bola, Bawa Keris hingga Ani-Ani ke Sekolah Pelosok
Museum Negeri Nusa Tenggara Barat mengambil langkah jemput bola dengan memboyong artefak kebudayaan dan sejarah langsung ke daerah pelosok. Langkah ini dilakukan untuk memperluas akses edukasi bagi para siswa yang memiliki keterbatasan kesempatan berkunjung langsung ke museum.
Pamong Budaya Madya Museum NTB, Gunarti, mengatakan bahwa program tersebut bertujuan menjangkau sekolah-sekolah yang lokasinya jauh dari museum. Dengan begitu, para siswa bisa mengenal warisan sejarah dan budaya daerah mereka sejak dini. Ia menegaskan bahwa pengenalan koleksi sejarah dan budaya penting untuk membantu siswa memahami peninggalan leluhur sekaligus mengenali identitas budaya mereka.
Dalam pelaksanaannya, siswa tidak hanya diajak mengamati benda-benda bersejarah. Mereka juga mengikuti kegiatan mendongeng tentang sosok anak yang memiliki rasa ingin tahu tinggi terhadap budaya, sehingga pembelajaran terasa lebih hidup dan menyenangkan.
Pada 14 Oktober 2026, Museum NTB membawa empat kotak berisi 15 koleksi artefak untuk diperkenalkan kepada para siswa di SDN Batu Pedang, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Belasan koleksi tersebut meliputi keris Lombok, takepan nabi haparas, serut kecil, pengikel, puset atau bor, tempat perhiasan, gelang tangan, teken ima, kawari, anjuk, sangket pondongan, alat pemanen padi ani-ani, hingga pengepak padi.
Kepala SDN Batu Pedang, Murtam, mengapresiasi program Museum Masuk Sekolah yang dikelola Museum NTB. Menurutnya, program ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengenal sejarah dan budaya lokal secara lebih dekat. Ia menyoroti bahwa banyak siswa belum memahami warisan budaya di sekitar tempat tinggal mereka yang berada di kawasan Gunung Piring, sehingga kehadiran koleksi langsung ke sekolah menjadi pengalaman berharga bagi anak-anak didiknya.
Salah seorang siswi kelas VI, Annisa Ramadani, mengaku senang dengan koleksi serta dongeng yang dihadirkan Museum NTB ke sekolahnya. Baginya, cerita di balik setiap koleksi artefak yang dipamerkan membuat anak-anak sekolah dasar dapat mengenal budaya serta jati diri mereka. Ia pun menyebut benda-benda bersejarah seperti perhiasan, tempat perhiasan, dan keris sebagai hal yang menarik untuk dipelajari.
Program ini berdampak positif bagi masyarakat, khususnya di daerah pelosok yang jauh dari akses museum. Dengan menghadirkan artefak langsung ke sekolah, kesenjangan akses terhadap edukasi budaya dapat dipersempit, sekaligus menumbuhkan rasa bangga dan kesadaran generasi muda terhadap warisan leluhur di tengah arus modernisasi.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.