Pemkab Lamongan Yakin Produksi Padi 2026 Tembus 1,3 Juta Ton, Petani Nikmati Harga Gabah di Atas HPP
Pemerintah Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, optimistis produksi padi pada 2026 akan melampaui capaian tahun sebelumnya yang sekitar 1,335 juta ton. Keyakinan ini didukung oleh mekanisasi pertanian yang terus digenjot serta masih berlangsungnya musim tanam berikutnya.
Bupati Lamongan Yuhronur Efendi mengungkapkan bahwa hingga pertengahan Oktober 2026, produksi padi di wilayahnya telah mencapai sekitar 1,2 juta ton. Menurutnya, angka tersebut masih berpeluang meningkat seiring adanya musim tanam yang belum berakhir. Ia menyampaikan hal itu di Lamongan, Senin.
Yuhronur menegaskan bahwa modernisasi pertanian terus didorong melalui penggunaan alat dan mesin pertanian atau alsintan untuk mendukung efisiensi proses budidaya hingga panen. Selain meningkatkan produktivitas, mekanisasi diharapkan membantu petani mempercepat pekerjaan sekaligus mengurangi kehilangan hasil panen.
Dukungan terhadap upaya tersebut diwujudkan melalui penyaluran bantuan alsintan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur kepada kelompok tani di Desa Kedali, Kecamatan Pucuk, Lamongan. Bantuan itu diserahkan langsung oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.
Selain mengejar peningkatan produksi, Bupati Yuhronur menyebut harga gabah di tingkat petani Lamongan berada pada kisaran Rp8.600 hingga Rp8.800 per kilogram. Harga tersebut lebih tinggi dibandingkan Harga Pembelian Pemerintah atau HPP sebesar Rp6.500 per kilogram.
Pemkab Lamongan juga mendorong pengembangan komoditas lain, termasuk jagung dan tebu. Program bongkar ratoon tebu untuk mendukung swasembada gula nasional telah mencapai sekitar 1.200 hektare, melampaui target awal 1.100 hektare.
Sepanjang 2026, Pemprov Jawa Timur menyalurkan 341 unit alsintan ke berbagai daerah. Khusus untuk Lamongan, bantuan tersebut mencakup empat unit mesin pemanen padi combine harvester berukuran besar, selain sejumlah peralatan pendukung pertanian lainnya.
Khofifah menuturkan bahwa penguatan sektor pertanian dari hulu hingga hilir diperlukan untuk menjaga ketahanan pangan di tengah ketidakpastian iklim dan dinamika pangan global. Penggunaan combine harvester sendiri dapat memangkas waktu panen lahan seluas satu hektare dari sekitar tiga hari secara manual menjadi hanya satu hingga dua jam. Teknologi itu juga menekan kehilangan hasil panen dari kisaran 9 hingga 11 persen menjadi sekitar 1 hingga 2 persen.
Dampak dari langkah ini terasa langsung bagi masyarakat tani Lamongan. Harga gabah yang berada di atas HPP memberikan margin keuntungan lebih baik bagi petani, sementara mekanisasi memangkas waktu dan tenaga kerja sekaligus menekan kerugian akibat kehilangan hasil panen. Bagi masyarakat luas, optimisme peningkatan produksi ini menjadi sinyal positif bagi ketersediaan pangan dan stabilitas harga di pasar.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.