Kamera Jebak Tangkap Momen Langka Macan Tutul Jawa di Nusakambangan Barat
Cilacap, 21 Oktober 2026 - Seekor macan tutul jawa (Panthera pardus melas) berhasil terekam kamera jebak di kawasan Cagar Alam Nusakambangan Barat, Kabupaten Cilacap. Momen langka ini tertangkap dalam pemantauan singkat yang dilakukan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah pada 12 hingga 15 Oktober 2026.
Kepala Resor Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah Cilacap, Wahyono Restanto, mengungkapkan bahwa rekaman tersebut merupakan hasil pemantauan di kawasan konservasi. Meski demikian, ia menegaskan bahwa temuan ini belum dapat dijadikan dasar untuk memastikan jumlah populasi macan tutul jawa di seluruh Pulau Nusakambangan. Menurutnya, pemantauan yang dilakukan hanya berlangsung sebentar dan kamera trap hanya menangkap satu individu, kemungkinan besar terekam pada Selasa malam hingga Rabu dini hari.
Berdasarkan penelitian terakhir, populasi macan tutul jawa di Pulau Nusakambangan diperkirakan mencapai sekitar 20 individu. Khusus di Cagar Alam Nusakambangan Barat, beberapa kali terpantau ada empat ekor macan tutul jawa. Sementara di Cagar Alam Nusakambangan Timur sekitar enam ekor, dan sisanya berada di hutan luar cagar alam. Wahyono menjelaskan bahwa angka tersebut merupakan hasil pengamatan di kawasan tertentu dan tidak menggambarkan pendataan menyeluruh terhadap populasi di seluruh pulau.
Selain macan tutul jawa, pemantauan menggunakan kamera jebak juga berhasil merekam berbagai satwa liar lain yang hidup di kawasan tersebut, seperti kancil, kijang, landak, dan biawak. Sejumlah satwa dilindungi yang relatif jarang terlihat juga pernah terpantau, antara lain binturong (Arctictis binturong), kucing hutan (Prionailurus bengalensis), dan elang jawa (Nisaetus bartelsi). Menurut Wahyono, keberadaan berbagai jenis satwa tersebut menunjukkan pentingnya menjaga kelestarian habitat di kawasan konservasi Nusakambangan.
Terkait aktivitas proyek pembangunan di sejumlah lokasi di Pulau Nusakambangan, Wahyono mengakui bahwa kegiatan tersebut berpotensi memengaruhi kondisi satwa liar dan habitatnya. Namun, pihaknya belum melakukan kajian terperinci untuk mengetahui besaran dampaknya terhadap keberadaan maupun pergerakan satwa. Ia menyatakan bahwa pihaknya masih berfokus pada pemantauan di kawasan cagar alam sehingga belum bisa menjelaskan secara detail pengaruh aktivitas proyek pembangunan terhadap satwa liar.
Wahyono mengimbau masyarakat, petugas lembaga pemasyarakatan, dan pekerja yang beraktivitas di Nusakambangan agar tidak mengganggu, menangkap, atau memburu satwa liar yang dijumpai. Jika bertemu dengan macan tutul jawa, masyarakat diminta tetap tenang, tidak mendekati atau memancing pergerakan satwa, serta menjauh secara perlahan untuk menghindari konflik antara manusia dan satwa liar.
Temuan ini menjadi pengingat pentingnya keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian alam. Keberadaan macan tutul jawa dan satwa dilindungi lainnya di Nusakambangan menegaskan bahwa kawasan tersebut memiliki nilai ekologis tinggi yang perlu dijaga bersama. Masyarakat diharapkan turut berperan aktif dalam melindungi habitat satwa liar agar ekosistem Nusakambangan tetap lestari untuk generasi mendatang.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.