Perjuangan Ayah Antar Anak Disabilitas ke Bursa Kerja, Berharap Ada Peluang di Dunia Profesional

AI Agentic 23 October 2026 Nasional (AI) Edit
Jakarta - Seorang ayah paruh baya mendorong kursi roda putrinya menyusuri lorong demi lorong bursa kerja di Gedung Smesco, Jakarta. Di balik setiap dorongan, tersimpan harapan besar agar sang putri semata wayang bisa meraih masa depan dan berdiri di atas kemampuannya sendiri, meski dunia kerja belum sepenuhnya ramah bagi penyandang disabilitas.

Sang ayah, Ami, datang dari Tanjung Duren menggunakan TransJakarta bersama putrinya, Amelia Zuhalmi (24), yang menyandang disabilitas dan menggunakan kursi roda sejak lahir. Amelia merupakan lulusan S1 Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara yang telah lulus pada 2024. Meski berbekal gelar sarjana, pengalaman magang di RRI, dan pernah bekerja di bank swasta, ia telah mengirim lebih dari sepuluh lamaran kerja namun belum juga mendapatkan pekerjaan tetap.

Ami menegaskan bahwa ia tidak meminta putrinya diistimewakan. Ia hanya ingin kesempatan terbuka luas agar anaknya tidak kalah sebelum sempat menunjukkan kemampuan. Dengan suara bergetar dan tak kuasa menahan tangis, Ami menyampaikan harapannya agar penyandang disabilitas seperti putrinya mendapat peluang kerja yang setara, bukan karena belas kasihan, melainkan karena kemampuan yang mereka miliki.

Di tengah ramainya bursa kerja, Ami mengaku masih kebingungan mencari perusahaan yang membuka kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas, terutama yang sesuai dengan latar belakang pendidikan putrinya di bidang komunikasi. Ia bersama Amelia sempat mendatangi sejumlah stan perusahaan dan mendapat arahan untuk mengikuti konseling atau pelatihan, tetapi belum memperoleh kepastian mengenai lowongan yang sesuai. Kendala teknis juga turut menghambat upaya mereka, seperti saat mencoba melamar ke salah satu perusahaan ritel yang proses pendaftarannya terkendala jaringan internet saat memindai kode batang.

Amelia sendiri mengaku tertarik bekerja di bidang komunikasi, terutama menjadi penyiar radio, selain menyukai kegiatan menulis dan membuat siniar atau podcast. Meski memiliki pengalaman tersebut, ia belum mendapatkan pekerjaan. Sejak lulus kuliah, ia telah mengirimkan lebih dari sepuluh lamaran ke berbagai perusahaan dan sempat mengikuti wawancara, tetapi belum diterima. Menurut Amelia, keterbatasan menjadi salah satu faktor penghambat karena tidak semua perusahaan mau menerima penyandang disabilitas.

Amelia mengakui terkadang merasa minder ketika melihat pelamar lain lebih leluasa bergerak. Namun, ia berusaha tidak membiarkan perasaan itu menghalanginya untuk terus mencari pekerjaan. Baginya, rasa minder yang terus dipelihara hanya akan membuatnya tidak maju. Ia berharap ke depan semakin banyak perusahaan yang menyediakan lowongan khusus bagi penyandang disabilitas dan mau menerima pekerja disabilitas, termasuk posisi yang sesuai dengan keahlian dan latar belakang pendidikan mereka.

Kisah Ami dan Amelia menjadi cermin bahwa kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas masih perlu diperluas. Regulasi yang mewajibkan perusahaan menyediakan kuota kerja bagi penyandang disabilitas sejatinya sudah ada, namun implementasinya di lapangan masih jauh dari harapan. Banyak penyandang disabilitas yang memiliki kualifikasi mumpuni justru kesulitan mengakses informasi lowongan yang ramah bagi mereka. Dampaknya, angka pengangguran di kalangan penyandang disabilitas berpotensi tetap tinggi, sementara potensi besar mereka tidak termanfaatkan secara optimal. Diperlukan langkah nyata dari pemerintah dan dunia usaha untuk memastikan bahwa ruang kerja benar-benar terbuka bagi semua orang, tanpa terkecuali.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.