Pemulihan 57 Ribu Hektare Sawah Terdampak Bencana di Aceh Berlanjut Hingga 2027
Bireuen, 18 Oktober 2026 - Upaya pemulihan lahan pertanian yang terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh terus berlanjut. Penanggung Jawab Swasembada Pangan Aceh, Agus Susanto, mengungkapkan bahwa dari sekitar 57 ribu hektare lahan pertanian yang terdampak, sekitar 3.000 hektare di antaranya mengalami kerusakan berat. Proses penanganan untuk lahan dengan kerusakan berat diperkirakan akan berlanjut hingga tahun 2027.
Agus menyampaikan hal tersebut saat meninjau proses pemulihan lahan pertanian di Desa Gampong Baro, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, Aceh, pada Sabtu. Ia menjelaskan bahwa pemulihan lahan dilakukan melalui program optimalisasi lahan dan rehabilitasi sawah. Sejumlah lahan yang sebelumnya tertimbun lumpur kini telah dibersihkan dan kembali ditanami, bahkan sebagian wilayah lainnya sudah memasuki masa panen.
Meski demikian, kerusakan berat masih ditemukan di sejumlah daerah, terutama di Kabupaten Aceh Utara dan Bireuen. Di Kabupaten Bireuen, sekitar 250 hektare lahan masih membutuhkan penanganan lebih lanjut. Menurut Agus, pemulihan lahan dengan kerusakan berat membutuhkan waktu, tenaga, anggaran, serta dukungan alat dan mesin pertanian. Pada beberapa lokasi, ketebalan lumpur yang menimbun sawah mencapai dua meter sehingga proses pemulihannya menjadi lebih sulit.
"Pertanian ini sangat membutuhkan waktu, energi, sumber daya dan sangat tergantung pula dengan kondisi cuaca," ujar Agus.
Penanganan sebagian lahan rusak berat telah dimulai di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya melalui pengerahan alat berat untuk mengangkat lumpur dan material yang menimbun sawah, sebelum dilanjutkan dengan pengolahan lahan. Pemerintah juga menyiapkan alternatif penanaman jagung bagi petani yang lahannya belum memungkinkan ditanami padi akibat timbunan lumpur yang terlalu tebal atau material batuan. Bantuan benih jagung direncanakan mulai disalurkan pada akhir Oktober 2026.
Namun, Agus menegaskan bahwa penanaman jagung tersebut bersifat sementara dan bukan untuk menggantikan fungsi sawah secara permanen. Pemerintah tetap berupaya mempertahankan luas baku sawah sekaligus menjaga keberlanjutan penghidupan petani.
Terkait produksi, Agus optimis hasil panen pada musim tanam rendeng dapat meningkat dibandingkan tahun 2025 seiring pemulihan lahan dan pertumbuhan tanaman yang mulai membaik. Produktivitas padi dengan metode konvensional umumnya berkisar lima hingga enam ton per hektare, sedangkan penerapan sistem pertanian modern ditargetkan dapat meningkatkan hasil menjadi 10 hingga 11 ton per hektare.
Secara keseluruhan, luas lahan pertanian di Aceh mencapai sekitar 202 ribu hektare. Pemerintah terus mendorong pemulihan sawah terdampak bencana dan peningkatan produktivitas untuk menjaga produksi pangan daerah. Dampak dari upaya ini sangat signifikan bagi masyarakat Aceh, khususnya para petani yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Pemulihan lahan tidak hanya berdampak pada peningkatan produksi pangan, tetapi juga pada pemulihan ekonomi keluarga petani dan ketahanan pangan regional. Dengan target peningkatan produktivitas hingga dua kali lipat melalui pertanian modern, diharapkan kesejahteraan petani dapat meningkat dan pasokan pangan di Aceh semakin stabil.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.