Wamenekraf: Ekonomi Kreatif Jadi Jembatan Pemersatu Bangsa Tanpa Sekat Perbedaan
Jakarta - Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menegaskan bahwa gelaran The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di SCBD Jakarta menjadi momentum krusial bagi kebangkitan sektor kreatif global yang inklusif. Menurutnya, ekonomi kreatif harus mampu menjadi wadah yang mempersatukan manusia tanpa terhalang perbedaan ras, suku, maupun agama.
Harapan tersebut disampaikan Irene dalam keterangan yang diterima di Jakarta pada Minggu, menegaskan posisi WCCE 2026 sebagai ajang strategis untuk memperluas jejaring sekaligus inkubator kolaborasi nyata antara penggiat industri kreatif lokal dan mitra internasional. Ia menekankan bahwa ekonomi kreatif tidak dapat tumbuh dalam ruang yang terpisah, sehingga sinergi lintas sektor menjadi kunci utama untuk membuka keran investasi dan adopsi teknologi modern.
Dalam pandangannya, ekosistem yang berkelanjutan hanya bisa terwujud melalui kolaborasi erat antara pemerintah, pelaku usaha, kreator, komunitas, akademisi, investor, dan mitra internasional. Kolaborasi ini dinilai penting untuk membuka akses terhadap pasar, investasi, teknologi, serta pengembangan kekayaan intelektual. Oleh karena itu, Irene mendorong agar WCCE 2026 tidak berhenti pada tataran dialog, tetapi benar-benar menghasilkan koneksi dan kolaborasi yang memberikan manfaat nyata bagi ekosistem ekonomi kreatif.
Semangat inklusivitas yang diusung melalui tema Inclusively Creative: Collective Continuity juga diwujudkan lewat Pasar Wiwitan di SCBD, sebuah creative marketplace garapan Artha Graha Peduli yang melibatkan lebih dari 200 UMKM lokal. Kehadiran ratusan pelaku usaha mikro tersebut diharapkan menjadi cermin nyata bahwa ekonomi kreatif mampu merangkul semua kalangan.
Kreator konten sekaligus pegiat kemanusiaan, Ferry Irwandi, menyampaikan harapannya agar ratusan UMKM di pasar akhir pekan tersebut dapat bertransformasi menjadi pendorong kesejahteraan masyarakat yang konkret. Ia berharap UMKM yang terlibat mampu membuka lapangan pekerjaan dalam jumlah besar dan mendorong peralihan dari sektor kerja informal menjadi kerja formal, yang menurutnya akan sangat baik bagi peningkatan ekonomi masyarakat.
Komitmen Indonesia dalam mengawal masa depan ekonomi kreatif di panggung dunia juga dipertegas melalui perumusan Jakarta Vision on Creative Economy. Cetak biru ini diproyeksikan menjadi pilar penting untuk memperkokoh posisi ekonomi kreatif dalam agenda pembangunan global pasca-2030, sekaligus meningkatkan atensi internasional terhadap kontribusi sosial-ekonomi sektor tersebut.
Ajang yang berlangsung pada 21-25 Oktober 2026 itu juga diwarnai aksi solidaritas kemanusiaan melalui doa bersama untuk penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kalimantan. WCCE 2026 sendiri menghadirkan beragam narasumber untuk memotret fakta lapangan terkait isu-isu terkini di Indonesia.
Analisis singkat dampaknya bagi masyarakat, gelaran WCCE 2026 dan berbagai agenda turunannya berpotensi memperkuat posisi pelaku UMKM lokal di mata pasar internasional. Pelibatan lebih dari 200 UMKM dalam Pasar Wiwitan menjadi sinyal bahwa forum tingkat dunia ini tidak hanya berhenti pada diskusi tingkat tinggi, tetapi juga menyentuh langsung denyut ekonomi rakyat. Jika kolaborasi lintas sektor yang digaungkan pemerintah benar-benar terwujud, masyarakat dapat menikmati dampak berupa terbukanya lapangan kerja formal, akses pasar yang lebih luas, serta penguatan ekosistem kekayaan intelektual yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan secara berkelanjutan.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.