KJRI Melbourne Pertemukan Pengusaha RI-Australia, Buka Peluang Kerja Sama Ekonomi Digital
Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Melbourne, Australia, mengambil langkah konkret untuk mempererat hubungan ekonomi kedua negara dengan menggelar business matching dan business forum yang mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan calon mitra mereka di Australia. Kedua kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara Festival Indonesia 2026, dengan agenda business matching yang telah berlangsung pada Kamis (22/10), disusul business forum bertema Navigating Cybersecurity and Digital Trust in the AI-Driven Indonesia-Australia Digital Economy yang dijadwalkan digelar di RMIT University, Melbourne, Selasa depan (27/10).
Konsul Jenderal Republik Indonesia di Melbourne, Yohannes Jatmiko Heru Prasetyo, dalam keterangan resminya yang diterima di Jakarta, Minggu, menyatakan bahwa kegiatan tersebut mencerminkan kedekatan Indonesia dan Australia bukan hanya terkait geografi, melainkan juga hubungan antarmasyarakat yang terus tumbuh dan membuka peluang kerja sama baru. Menurutnya, forum bisnis ini akan menjadi ruang bagi perwakilan pemerintah, industri, dan akademisi dari kedua negara untuk membahas isu-isu penting dalam ekonomi digital dan perdagangan lintas negara.
Sejumlah isu yang menjadi sorotan dalam forum tersebut antara lain tata kelola data lintas batas, regulasi dan akses pasar, hingga identitas digital dan keamanan siber. Dalam forum itu, perusahaan teknologi identitas digital asal Indonesia, Privy ID, dijadwalkan hadir bersama sejumlah perusahaan keamanan siber Australia yang telah merambah pasar global, seperti CyberCert, Palo Alto Networks, DHI-AI, dan Guardware.
Langkah KJRI Melbourne ini sejalan dengan momentum pertumbuhan perdagangan bilateral yang signifikan. Dalam peluncuran Australia-Indonesia Partnership for Economic Development (PROSPERA) di Jakarta, Kamis (22/10), Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong mengungkapkan bahwa perdagangan bilateral antara Indonesia dan Australia telah meningkat tiga kali lipat dalam lima tahun terakhir. Ia menyatakan capaian tersebut merupakan hasil dari penerapan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (IA-CEPA).
Dalam lima tahun terakhir di bawah perjanjian tersebut, kata Penny Wong, perdagangan kedua negara meningkat hampir tiga kali lipat mencapai 33 miliar dolar Australia atau sekitar Rp415,50 triliun. Ia juga menyoroti bahwa investasi antara kedua negara tumbuh 8,4 persen dalam periode yang sama.
Bagi masyarakat, gelaran forum bisnis ini berpotensi membuka akses yang lebih luas terhadap lapangan kerja baru, terutama di sektor ekonomi digital dan keamanan siber yang terus berkembang pesat. Kolaborasi antara perusahaan teknologi Indonesia seperti Privy ID dengan pemain global asal Australia juga dapat mendorong transfer pengetahuan dan penguatan ekosistem digital nasional. Sementara itu, pertumbuhan perdagangan dan investasi yang pesat di bawah kerangka IA-CEPA menjadi sinyal positif bahwa hubungan ekonomi kedua negara semakin erat, yang pada akhirnya dapat berdampak pada ketersediaan barang, jasa, dan peluang usaha bagi masyarakat luas.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.